[cerbung - DOKTER IMPIAN] 2. Bukan Dokter Idaman
Posted in CerBung - Dokter Impian, Fiksi on 12/26/2009 09:35 am by Nadiah AlwiSEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 1. Seorang Dokter untuk Warga Kota Berkulit Hitam
Hari ini sudah hari Jum’at. Sudah lima hari dokter laki-laki itu bertugas di kotaku. Tapi, belum sekalipun kumelihat wajahnya.
Yah, sudah lima hari ini pula guru-guru di sekolah rajin memberi PR. PR yang membosankan. Bayangkan, aku harus mengerjakan lima belas soal matematika, dua puluh soal fisika, lima soal kimia—yah, lima terlihat sedikit, tapi lebih baik tidak sama sekali kan?—, satu tugas mengarang dari Guru Bahasa Indonesia dan satu tugas menghafalkan lagu untuk dinyanyikan saat pelajaran seni musik—sayang, tak ada seorang pun di kelas yang punya alat musik, kalau ya, mungkin aku tak perlu mempermalukan diri di depan kelas dengan mengeluarkan suara jelekku.
Tapi, syukurlah…tadi siang semua sudah selesai. Dan, sepertinya guru-guru itu cukup puas hingga berbaik hati dengan membebaskan kami dari PR dalam bentuk apapun untuk akhir minggu ini.
Jadi, sekarang, kedua kakiku sedang mengayuh sepeda dengan sangat bersemangat. Ke mana lagi kalau bukan ke rumah dinas dokter pria itu.
Kusapu keringat di dahi dengan kibasan punggung tanganku. Aku ingin terlihat segar saat bertemu dengan sang dokter. Dalam bayanganku muncul seorang pria berjas putih—tapi segera kuhapus jas itu karena di sini panas sekali dan konyol sekali kalau dokter itu mau memakai jas karena pasti jas itu akan kuyup oleh keringat, dan muncullah seorang pria berkemeja putih berbahan tipis dengan kaus singlet di baliknya—dan bercelana coklat tua dengan stetoskop menggantung di lehernya. Kulitnya putih bersih. rambutnya disisir rapi, berbelah pinggir. Kaca matanya tidak tebal tapi tidak juga tipis. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima senti meter dan tubuhnya tidak gemuk tidak pula kurus. Agak kekar. Ya, seperti model pria yang pernah kulihat di majalah Wiwin, teman sekelasku.
Senyum mengembang di bibirku. Kuletakkan sepeda di depan Puskesmas yang terletak tepat di sebelah rumah dinas sang dokter. Benar dugaanku, dokter masih di Puskesmas.
Di teras Puskesmas, aku bertemu dengan Wak Dudung yang terlihat sangat pucat. Mulutnya komat-kamit, entah berdoa, entah mengomel.
“Sakit, Wak?” tanyaku menyapa.
“Iya, Neng. Badan sudah pada sakit semua, tapi obatnya cuma ini.” Pria tua kurus nan hitam itu menunjukkan kantung plastik berisikan beberapa tablet berwarna oranye, sepertinya vitamin. Berarti tadi ia mengomel.
“Payah dokter barunya,” lanjut Wak Dudung.
Hm…belum-belum sudah ada yang mengeluh. Semakin penasaran aku dengan dokter baru itu.
“Eh, Neng Gadis…sendirian?” tanya Bu Nunik, perawat setia Puskesmas.
Aku mengangguk.
“Sakit?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng.
“Cuma mau lihat dokter baru,” bisikku jujur di telinga Bu Nunik.
“Masih di dalam. Ada si Erah…” Bu Nunik balas berbisik di telingaku.
“Ooh…”
Duh, belum-belum si Erah, janda centil kota ini sudah sakit. Bu Nunik terlihat sebal.
Bu Nunik kenal hampir semua warga kota walaupun bukan warga asli. Dua belas tahun yang lalu—ia menikah dengan adik mantan kepala kota yang pernah bekerja di kota kelahiran Bu Nunik. Mereka bertemu di rumah sakit di mana Bu Nunik dulu bertugas dan adik mantan kepala kota itu dirawat. Akhirnya, demi cinta, Bu Nunik tak menolak diajak tinggal di kota ini dan diberi tugas oleh iparnya yang saat itu masih menjabat sebagai kepala kota untuk membantu di Puskesmas.
Hebat ya aku bisa tahu sedetil itu? Tentu saja. Hampir setiap orang yang sedang mengantri di dekat meja Bu Nunik diceritakan lagi dan lagi—ya oleh siapa lagi kalau bukan oleh Bu Nunik sendiri?
Pintu ruang praktek dibuka. Si Erah keluar dengan wajah sumringah. Dasar genit!
Pintu ditutup. Loh, mana dokternya?
“Pak Yopi,” panggil Bu Nunik.
Berdirilah Pak Yopi, dengan wajah yang hampir sama sumringahnya dengan Erah. Pak Yopi adalah warga baru di kota ini. Ia pindahan dari Ambon. Wajahnya tak pernah lepas dari senyuman, bagaimanapun keadaannya hari itu.
Pak Yopi membuka pintu ruang praktek, lalu menutupnya. Wajah sang dokter masih merupakan misteri.
“Dokternya nggak muncul-muncul ya, Bu Nunik?” tanya Bu Kasem, istri kepala nelayan kota ini.
“Dokternya pemalu,” kata Bu Nunik sambil mesem-mesem.
Mana ada dokter pemalu? Bagaimana bisa menangani pasien kalau pemalu?
Bu Nunik berbisik ke telingaku—aku kebetulan duduk tepat di sebelah mejanya. “Mau ketemu Pak Dokter?”
Aku mengangguk.
“Pura-pura sakit saja,” sarannya.
“Nggak mau. Saya pulang saja deh, Bu. Kapan-kapan mampir lagi.”
Langsung kusambar sepedaku yang tergeletak begitu saja di teras Puskesmas. Seorang dokter tinggi dan gagah yang pemalu. Bayangan itu memenuhi kepalaku di setiap kayuhan.
Malam itu aku tak dapat tidur. Aku memang begitu. Kalau sedang dihantui rasa penasaran, aku sulit tidur.
Berkali-kali aku mengubah-ubah rupa dokter itu. Hanya wajahnya, karena bentuk tubuhnya yang lain tetap seperti bayanganku sebelumnya, putih, tinggi tegap. Rambutnya kadang kubuat keriting, agak kribo. Kali lain lurus dengan minyak rambut yang lepek. Tapi, yang paling kusuka adalah ketika rambutnya ikal.
Alisnya. Alisnya tidak tebal, tapi juga tidak tipis. Dan membentuk sudut tajam.
Hidungnya mancung. Pernah sekali kubayangkan ia berhidung mancung agak seperti betet. Lucu juga…hehehe…seperti Kang Mu’in yang tinggal di belakang rumahku. Bedanya, Kang Mu’in berkulit hitam dan sedikit agak botak.
Aku jadi cekikikan.
“Gadis…”
Wah, Ibu!
Pintu kamarku dibuka. “Kenapa kamu malam-malam ketawa sendiri begitu? Serem tahu!”
“Nggak, Bu. Lagi baca cerita lucu.”
“Tidur. Sudah malam.”
Fiuh…untung Ibu tidak sadar. Tak mungkin aku baca buku, di sekelilingku tak ada satu buku pun.
Setelah kudengar pintu kamar Ibu dikunci, aku kembali melanjutkan imajinasiku tentang sang dokter idaman.
Bibirnya…tipis! Hampir semua warga kota ini berbibir agak tebal. Jadi, seseorang berbibir tipis mungkin bisa mengubah sedikit pemandangan kota ini.
Tapi, ia pemalu? Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana ia bisa menangani warga kota yang aneh-aneh kalau ia pemalu?
Aku ingat betapa ramahnya Dokter Putri. Dokter satu itu berhasil membuat hampir semua warga kota sudi minum vitamin jika badan sedang tidak fit hanya karena ia rajin mengunjungi kami satu-persatu. Dengan senyum indahnya, Dokter Putri menjelaskan berbagai hal mengenai penyakit dan cara pencegahannya, juga cara pengobatannya. Dan, hampir seluruh warga kota patuh padanya.
Nah ini…pemalu?
Orang pemalu pasti sulit berkomunikasi. Sementara, warga kota pasti mengharapkan seorang dokter yang pro-aktif. Warga kota ini manja, senang dibujuk-bujuk bahkan untuk melakukan hal yang berguna bagi diri mereka sendiri. Yah, warga kota ini memang kadang agak menyebalkan. Kecuali aku.
Whoaaammm…ngantuk juga. Kulirik jam. Sudah jam dua pagi. Hmmm…aku tak mau terlambat ke sekolah!
“Gadisss! Bangunnn!”
Tuuuh kan! Kalau Ibu sudah berteriak-teriak begitu, itu tandanya hari sudah siang. Aku pasti terlambat.
Selesai mandi, sholat Subuh dan berganti pakaian, aku langsung mengayuh sepedaku dengan amat laju. Terpaksa aku tidak makan pagi. Dan, perutku terasa lapar.
Duh, jam pelajaran pertama biologi. Aku paling tidak suka jika ada gangguan dalam mata pelajaran ini. Aku kan ingin menjadi dokter. Jadi, aku harus serius mengikuti pelajaran itu.
Aku tiba di sekolah tepat jam tujuh kurang sepuluh menit. Lima menit lagi bel berbunyi. Mungkin aku sempat mencomot satu dua gorengan di warung Mbah Kus di belakang sekolah.
Waaahhh…Mbah Kus tidak jualan.
“Mang, Mbah Kus ke mana?” tanyaku pada Mang Jarot, penjaga sekolah.
“Lagi nengok anaknya yang sakit di Jogja.”
Waaahhh…kacau!
Teng…teng…teng…!
Loh, bel sudah berbunyi? Belum jam tujuh kurang lima menit!
Ah, memang aku sedang sial!
Aku berlari menuju kelas.
Loh…loh…loh…langkahku terhenti di pintu kelas. Siapa itu?! Ke mana Bu Halimah, guru biologi favoritku?! Di depan kelas, bersama Bapak Kepala Sekolah, ada seorang pria berkaca mata tebal, berkulit hitam, tidak terlalu tinggi, berambut kribo?!!! Guru barukah?!
“Gadis, ayo masuk…” terdengar suara Bu Halimah di belakangku.
Loh…lalu siapa pria itu?
Aku langsung duduk di sebelah Gading, kawan semejaku. Kami duduk bersama karena namaku dan namanya hampir sama, aku berakhiran s, ia berakhiran ng. Nama kami berurutan di daftar absen—semenjak kami duduk di bangku TK!
“Nah, anak-anak…perkenalkan. Ini adalah Dokter Bagas, dokter kota kita yang baru,” ujar Bapak Kepala Sekolah.
Terdengar suara bisik-bisik di sekelilingku. Sementara mulutku hanya mampu membentuk huruf O (O besar, bukan o kecil) dan tak bersuara sama sekali, mendesis pun tidak—aku bukan sebangsa ular.
Mana mungkin!!! Otakku sulit menerima. Tidak mungkin dia dokter itu. Tapi, wajahnya terlihat malu-malu. Jadi, besar kemungkinan memang ialah sang dokter yang ditunggu-tunggu!
“Pagi ini, Dokter Bagas akan mengisi mata pelajaran biologi dengan topik kesehatan tubuh. Silakan, Dokter…”
Dokter itu tersenyum. Deretan giginya bersembunyi di balik sepasang bibirnya yang…tebal! Bahkan lebih tebal dari bibir Pak Yopi!
Hancurlah semua imajinasiku mengenai Dokter pria gagah, tinggi, putih dan berbibir tipis.
Alih-alih berbibir tipis, dokter baru ini justru beralis tipis. Untunglah kaca mata tebalnya menutupi kekurangannya itu.
Hidungnya? Oh, syukurlah, tidak terlalu pesek, walaupun tidak seperti betet seperti yang kubayangkan semalam. Tapi, cupingnya lebih lebar dari semestinya.
Sia-sia saja aku menghabiskan waktu hingga jam dua malam demi membayangkan sosok dokter baru. Menyebalkan!
SELANJUTNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 3. Akrab dengan Sang Dokter


December 26th, 2009 at 10:31
Hahaha..hihihi…lanjooot:D
December 26th, 2009 at 10:36
Oh ya..saranku ‘loh’ diganti ‘lho’:D
December 27th, 2009 at 22:37
hehehe insya Allah lanjut terus niii…
lho itu kesannya bertanya, kalo loh kesannya memberitahu
jd aku pake loh heehhe…
May 14th, 2010 at 21:06
[...] SELANJUTNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 2. Bukan Dokter Idaman [...]
May 14th, 2010 at 21:08
[...] SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 2. Bukan Dokter Idaman [...]