[cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter

SELANJUTNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 3. Akrab dengan Sang Dokter

Pagi yang cerah. Aku terbangun saat adzan Subuh dikumandangkan oleh Pak Slamet, penjaga Masjid dekat rumahku. Suara Pak Slamet merdu sekali. Aku pernah nekat menanyakan kepada pria tua itu apakah dulu ia pernah berprofesi sebagai penyanyi. Dan, jawaban Pak Slamet sungguh dapat diduga: ‘Tidak pernah, Neng.’

Tapi, itu tidak penting. Yang penting adalah segera mandi, sholat Subuh, lalu sarapan, membereskan kamar dan…bersiap-siap ke rumah Dokter Bagas.

Tapi, rasanya aneh juga. Biasanya ke mana-mana aku naik sepeda. Dan, sekarang, aku harus berjalan kaki.

Aku keluar rumah sekitar jam setengah delapan pagi. Perkiraanku, aku akan sampai jam delapan kurang sepuluh menit—padahal kalau naik sepeda aku bisa sampai di sana jauh lebih cepat.

Hari Minggu Puskesmas tutup, tapi kalau ada yang butuh pertolongan, pintu rumah Dokter Bagas selalu terbuka lebar. Kadang, ada saja warga yang datang ke rumah dinas dokter—walau hanya untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Tapi, pagi ini, rumah itu lengang. Pintunya masih tertutup rapat. Hm…sudah bangun atau belum ya, si Dokter?

Kuketuk pintu rumahnya sambil mengintip melalui jendela. Sepi. Kuketuk lagi.

Kali ini, sambil memanggil namanya, “Dokter…Dokter Bagass…Assalamu’alaikum…”

Tidak dijawab. Duh, pasti belum bangun. Huh! Dokter kok bangunnya siang sih?!

Akhirnya, kuputuskan untuk melongok ke belakang rumahnya. Mungkin pintu belakang dibuka. Mungkin ia sedang mencuci, memasak atau apa.

Kakiku melangkah di antara pot-pot berisi bunga mawar kesayangan Dokter Putri yang sekarang diurus Pak Danu yang tinggal di sebelah rumah dinas Dokter. Entah Dokter Bagas berniat merawat mawar-mawar itu atau membiarkan Pak Danu terus menyirami, memupuk dan merapikannya.

Ternyata, di belakang rumah pun tak ada siapa-siapa.

Haruskah kuketuk pintu belakang ini? Tapi, kok rasanya kurang sopan ya? Ah, lebih baik tidak. Lebih baik aku pulang. Kalaupun Dokter Bagas mau mengembalikan sepedaku, ia bisa ke rumah.

Tepat saat aku membalikkan badan, aku dikejutkan oleh sebuah suara lantang, “Dor!”

“Huaaaaaaaaaaa!!!”

“Hehehe!”

“Dokter!!!” Pasti kedua mataku melotot, hidungku kembang kempis, dan mulutku manyun—kata Ibu sih itu ciri-ciriku jika sedang marah.

“Maaf, Gadis…hehehe…habis kamu lucu sekali, mengendap-endap begitu.”

Aku diam saja.

“Masuk yuk. Tadi aku berkeliling dengan sepedamu ini. Maaf ya, nggak ijin dulu.”

Aku mengangguk.

Kami melangkah menuju halaman depan dan kuhempaskan tubuh di bangku yang terletak di teras. Sementara itu, Dokter Bagas memakirkan sepedaku, lalu membuka pintu rumahnya. Setelahnya, ia masuk begitu saja. Tak mengajakku atau menyuruhku masuk. Jadi, kuputuskan untuk tetap duduk di teras.

Padahal, dulu, kalau sedang mengunjungi Dokter Putri atau dokter-dokter perempuan lainnya, aku pasti akan langsung masuk ke dalam rumah, tanpa rasa sungkan.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki Dokter Bagas. Di tangannya terdapat sebuah nampan yang menopang dua buah gelas berisi air teh.

“Silakan, Gadis.”

“Dokter, nggak perlu repot-repot,” kataku berusaha sopan—padahal sebenarnya aku merasa salah tingkah!

Setelah meletakkan nampan itu di meja teras, Dokter Bagas mendekatiku, lalu berbisik, “Tadinya saya cuma mau bikin satu gelas…tapi kasihan juga sama kamu.”

Loh…kok nyebelin gini si Dokter? Dan, bercandanya nggak lucu!

Akhirnya kuputuskan untuk tidak mengambil minuman itu.

Tak berapa lama, tangan Dokter Bagas menyodorkan gelas teh yang masih utuh.

“Nanti keburu dingin, nggak enak.”

Terpaksa kuambil juga gelas itu, dan kuseruput teh hangat yang manis hingga hanya bersisa setengah gelas. Enak juga teh buatan si Dokter, pas. Kuminum lagi sisanya. Kosonglah gelasku.

“Mau tambah, Gadis?”

Aku tersipu—terasa sekali pipiku memanas. “Nggak usah, terima kasih banyak, Dok. Sebenarnya tadi saya sudah sarapan.”

“Tapi, haus lagi?”

“Nggak juga.”

“Berarti karena teh buatan saya enak ya?”

Duh, ke-pede-an banget sih dokter kribo satu ini.

“Lumayan.”

“Hehehe…”

Eh, tunggu…kok dia jadi pecicilan seperti ini sih? Kata Bu Nunik dia pemalu! Dokter yang aneh!

“Jadi, kamu sudah sarapan?”

Aku mengangguk. “Takut pingsan lagi,” tambahku.

“Hahahahaha! Bagus. Tapi, saya belum sarapan. Tadi pagi, Bu Nunik mengirimkan nasi goreng sih. Kita makan sama-sama ya?”

“Nggak usah, Dok. Terima kasih. Dokter saja.”

Hm…untung aku menolak. Ternyata nasi goreng kiriman Bu Nunik memang hanya satu porsi. Kalau aku ikut makan juga, kasihan Dokter Bagas kan?

Sementara Dokter Bagas masih makan di dalam rumah, aku duduk di ruang tamu sambil membuka-buka beberapa buku yang disodorkannya.

“Supaya nggak bosan nunggu,” katanya.

Awalnya, kupikir hanya buku-buku kedokteran yang akan kudapati, tapi ternyata ada juga beberapa novel.

Saat kedua mata dan tanganku sedang menelusuri buku-buku tersebut satu-persatu, Dokter Bagas sudah berdiri di sebelahku, “Kamu mau pinjam? Boleh kok…”

Aku tersenyum, “Iya, mau. Kapan-kapan.”

Lalu, tak berapa lama kemudian, kami sudah berboncengan di atas sepedaku. Dokter Bagas yang mengendarai, sementara aku duduk di jok belakang dengan manisnya. Tanganku kubiarkan terlepas. Aku terbiasa mengatur keseimbangan, jadi aku takkan mungkin jatuh meski tidak berpegangan.

Angin menyapu rambut kribo sang dokter yang tak berubah sedikit pun, sementara kaus polonya terlihat menggembung. Mudah-mudahan saja dokter tidak sampai masuk angin.

“Di depan belok kanan, Dok,” teriakku, memberi petunjuk.

“Loh, bukannya kita masih harus lurus?”

“Itu sih jauh, Dok…kita lewat jalan pintas saja.”

“Oh…ok!”

“Kemarin sudah lihat-lihat?”

“Belum. Waktu saya sampai di sana, tokonya sudah tutup.”

“Oh ya?”

“Iya. Tapi, ngomong-ngomong, nggak banyak ya yang jual sepeda?”

Duh, Dokter, ini kan bukan kota besar.

“Iya, memang cuma ada dua, itu pun yang satu hanya menjual sepeda untuk anak-anak.”

“Kenapa bisa begitu ya?”

“Karena hampir semua orang di sini sudah punya sepeda. Kalaupun ada yang beli, itu karena sepedanya yang lama sudah rusak atau memang mau tukar tambah dengan yang lebih bagus. Jadi, ya, nggak perlu banyak penjual kan, Dok?”

“Betul juga. Tapi, kalau sepeda rusak, bisa diperbaiki di mana?”

“Di situ juga.”

“Wah, enak…nggak perlu repot-repot ya.”

Ah, Dokter…di kota kecil seperti ini mana ada yang repot? Semua serba sederhana, tenang, tidak rumit.

Kami terdiam. Hembusan anging masih menerpa wajahku. Kami pun melewati sebuah warung yang ramai dengan pembeli, warung Mbok War. Lalu kami belok kanan.

Dari jauh terlihat pasar yang sepi. Memang, belakangan ini, pasar tak lagi seramai dulu. Pembeli semakin sedikit. Keuangan semakin sulit. Setiap kali aku ke pasar, kulihat seakan barang dagangan mereka tak berkurang barang satu pun.

Tapi, yang paling kusukai dari kota tempat tinggalku ini adalah keceriaan yang selalu tampil di wajah penduduknya. Tak pernah kulihat ada seorang pedagang pun yang menekuk wajah. Semua ceria, bahagia, seakan mereka baru saja menjual seisi toko.

Aku bersyukur hari ini dapat mengantar Dokter Bagas membeli sepeda. Karena, seperti yang pernah kudengar dari Bapak, Pak Dadi, sang penjual sepeda, pernah sampai harus meminjam untuk memberi makan istri dan anaknya. Mudah-mudahan hati Dokter Bagas cukup baik untuk tidak menawar terlalu rendah.

Kami pun tiba di depan toko sepeda. Kulihat Pak Dadi sedang membersihkan dagangannya, sementara kursi kesayangannya yang tua terlihat semakin lusuh. Tubuh Pak Dadi pun semakin kurus, ringkih.

“Pak,” sapaku.

“Eeehhh…Neng Gadis. Kenapa sepedanya?”

“Sepedaku sehat-sehat saja, Pak. Cuma ini…Dokter Bagas mau membeli sepeda.”

“Ooohhh…yang kemarin ke sini Pak Dokter ya? Saya diberi tahu kalau ada yang cari sepeda. Tapi, kemarin saya memang tutup lebih cepat. Mari silakan, Pak Dokter, dilihat-lihat. Mungkin ada yang disukai.”

“Terima kasih, Pak.”

Dokter Bagas menelusuri sepeda satu-persatu. Sesekali ia mencoba remnya, membunyikan belnya, berjongkok memeriksa rantainya, dan terakhir ia  berhenti di sisi sebuah sepeda tua. Hm…lebih tepat jika disebut sepeda antik sih. Walaupun sepertinya sepeda itu aqdalah sepeda tua, stangnya terlihat mengkilap.

Tunggu…itu kan sepeda Pak Yusrin, mantan kepala kota yang meninggal sekitar dua tahun yang lalu. Setahuku, itu sepeda kesayangannya. Lalu, kenapa dijual?

“Yang ini berapa, Pak?”

“Wah, yang itu tidak dijual, Pak Dokter.”

Betul firasatku.

“Sepeda itu hanya dititipkan di sini oleh istri mendiang pemiliknya. Katanya, ia terlalu sedih kalau harus terus-menerus melihat sepeda kesayangan almarhum suaminya. Jadi, saya diminta mengurus.”

“Kasihan Bu Yusrin ya, Pak…”

Pak Dadi mengangguk.

Dokter Bagas kembali berkeliling.

Tak berapa lama, ia kembali lagi ke sepeda itu, menelusuri badan sepeda dengan kedua tangannya, seperti sedang memeriksa pasien.

“Bagaimana, Dok?”

“Saya naksir berat sama yang ini. Susah. Kalau sudah suka sesuatu, saya sulit berpaling.”

Wah, Dokter Bagas tipe pria setia dong ya? Ehem…

“Jadi?”

Dokter Bagas mengangkat bahu.

“Hm…Pak Dadi, memangnya nggak boleh dijual ya?”

“Nggak boleh, Neng. Pesan Bu Yusrin begitu.”

“Hmmm…kira-kira kalau sewa boleh nggak ya?”

“Nggak boleh juga, Neng…pesannya cuma titip saja. Tadinya saya mau simpan di rumah, tapi mau ditaruh di mana? Di halaman? Takut hilang. Makanya saya simpan di sini.”

“Pak, kira-kira kalau saya ke Bu Yusrin gimana?”

“Wah, jangan…nanti saya dimarahi.”

“Hmmm…”

“Ya sudahlah, nggak apa, Gadis, Pak. Saya pilih sepeda lain saja. Tapi, mungkin besok-besok, kalau saya sudah bisa melupakan sepeda antik itu.”

Duh, Dokter Bagas ini orangnya sekukuh baja. Tapi, aku punya ide.

Dan, aku pun mengutarakan ide itu saat kami berjalan beriringan, sambil Dokter Bagas membawa sepedaku.

“Dok, kita ke rumah Bu Yusrin yuk?” ajakku.

“Ah, jangan…nanti Pak Dadi dimarahi.”

“Nggak…tenang saja, Dok.”

Dan, kami pun berboncengan menuju rumah mantan Kepala Kota yang berjarak hanya sepuluh menit dari pasar.

Rumah itu besar, tapi sederhana. Rumah semua kepala kota ini memang sederhana. Tak ada yang megah ataupun mencolok. Karena, yang terpilih selalu mereka yang jujur, berdedikasi dan tak mementingkan diri sendiri.

Seperti Pak Yusrin, misalnya. Ia begitu perhatian kepada warga. Ia selalu mendahulukan kepentingan warga daripada kepentingan dirinya ataupun keluarganya sendiri. Ia adalah bapak bagi semua warga di sini, tempat mengadu, tempat bersandar, tempat memohon pertolongan.

Saat kami tiba persis di depan pintu rumah tersebut, ada seseorang yang membukanya. Bu Yusrin.

“Loh…ada tamu?”

Bu Yusrin tersenyum ramah.

“Iya, Bu,” kataku sambil mencium tangannya.

Dokter Bagas mengikuti. Ia juga mencium tangan Bu Yusrin yang lembut dan mujlai berkeriput.

“Perkenalkan, Bu. Ini Dokter Bagas, dokter baru di sini.”

“Ooohhh…ini Dokter Bagas. Bu Nunik siudah cerita. Kemarin dia ke sini, membawakan vitamin untuk saya. Dia banyak cerita. Katanya, dokter yang baru ini laki-laki, dan baik sekali.”

Wajah Dokter Bagas merona. Mulai deh, jadi Dokter Bagas yang pemalu. Dokter yang aneh!

“Terima kasih ya, sudah mau ke sini. Saya jadi terharu,” kata Bu Yusrin lagi.

“Sama-sama, Bu. “

“Bu, omong-omong sepeda Bapak ke mana ya? Dibawa Oom Pandu ya?”

Wajah Bu Yusrin berubah sedih. Duh, aku jadi menyesal. Demi membuat Dokter Bagas senang, aku harus menguak kesedihan Bu Yusrin.

“Saya titip di Pak Dadi, Gadis. Supaya bisa diurus dengan baik.”

“Oohhh…begitu…”

Aku mengangguk-angguk.

“Dokter Bagas juga mau ke toko Pak Dadi. Mau beli sepeda,” lanjutku.

“Oh ya?”

Dokter Bagas mengangguk.

Kami terdiam. Kulihat mata Bu Yusrin menerawang. Lalu, tiba-tiba ia berseru.

“Bagaimana kalau Dokter memakai sepeda suami saya saja?!”

Berhasil! Rencanaku berhasil!

“Maksud Ibu?” tanya Dokter Bagas. Ada kegembiraan di matanya, walau sepertinya berusaha ditutup-tutupinya.

“Iya, pakai saja. Tak usah beli. Nanti kalau Dokter sudah selesai bertugas, cukup kembalikan saja ke Pak Dadi. Mau?”

“Wah, sebuah kehormatan buat saya, Bu.”

“Coba saya suruh orang saya mengambil sepeda itu di toko Pak Dadi. Tunggu ya.”

Dokter Bagas tersenyum ke arahku. Senyumnya manis sekali. Aku begitu terpana sampai rasanya sulit sekali menarik kedua ujung bibirku ke atas. Duh, wajahku pasti aneh sekali.

Tak berapa lama, Bu Yusrin kembali. Kami pun berbincang-bincang. Tepatnya, Bu Yusrin dan Dokter Bagas berbincang-bincang, sementara aku hanya melongo. Sesekali aku mencuri pandang ke arah Dokter Bagas. Kenapa jantungku berdegup ya?

Dan, kenapa Dokter Bagas seakan mengeluarkan sinar gemilang? Kenapa dadaku terasa penuh saat matanya juga melirik ke arahku? Kenapa rasanya aku sulit bernafas? Kenapa rasanya ada semut-semut kecil menelusuri ususku? Kenapa sepertinya ada jutaan kupu-kupu hilir mudik di rongga perutku?

“Ya kan, Gadis…?”

“Gadis…”

“Gadis…hey!”

Tangan Dokter Bagas menjawil lenganku.

“Eh?”

“Kamu kok bengong begitu sih?”

“Hehehe…”

“Nah, itu dia sepedanya…” kata Bu Yusrin lirih. Nampak kesedihan di mata tuanya.

Dokter Bagas nampaknya berusaha keras menyembunyikan keriangan di hatinya. Aku mengikuti mereka dari belakang.

Bu Yusrin mengelus sepeda itu. Air mata tak tertahankan lagi di matanya. Aku dan Dokter Bagas saling pandang dan terdiam.

Setelah puas menelusuri sepeda kesayangan almarhum suaminya, Bu Yusrin menghapus air mata dan tersenyum ke arah kami.

“Dokter, pakailah sepeda ini. Bapak pasti senang kalau sepedanya digunakan untuk kebaikan. Mungkin, kalau Dokter butuh ke rumah warga yang sakit, Dokter bisa menggunakan sepeda ini.”

“Baik, Bu…saya akan rawat dengan baik sepeda ini. Saya berjanji, Bu.”

“Tapi, Bu…bagaimana dengan Pak Dadi?” tanyaku.

“Memang selama saya menitipkannya di sana, saya memberi upah sedikit kepada Pak Dadi. Tak apalah, nanti tetap saya lanjutkan. Toh, nanti kalau Dokter sudah tidak bertugas di sini lagi, sepeda itu akan kembali saya titipkan di sana.”

“Saya juga akan sering-sering ke sana, Bu, supaya Pak Dadi bisa merawat sepeda ini, membersihkan dan merapikannya. Jadi, ia akan tetap berpenghasilan.”

“Baguslah kalau begitu. Mari kita ke teras lagi. Minuman kalian kan belum habis.”

Kami pun melangkah di belakang Bu Yusrin. Walaupun ia menangis, aku tahu, ia juga merasa bahagia karena akhirnya, ia dapat mengobati sedikit luka di hatinya dengan meminjamkan sepeda itu. Awalnya, kupikir, aku harus berusaha keras membujuk Bu Yusrin, tapi ternyata, dengan begitu mudahnya ia meminjamkan sepeda antik itu.

Kami meninggalkan rumah Bu Yusrin sekitar jam sepuluh pagi. Hari cerah, namun tidak terlalu panas—paling tidak untuk ukuran sebuah kota di tepi pantai seperti ini. Kami mengayuh sepeda masing-masing dengan santai, merasakan hembusan angin yang agak hangat menerpa wajah. Senyuman tak lepas dari wajah Dokter Bagas.

“Dok, kita ke pantai, yuk, ajakku…”

“Hm…boleh…”

Sepeda kukayuh dengan laju, dan dokter Bagas pun mengikuti. Jadilah kami berlomba menuju pantai. Kurasakan angin segar menerpa wajah dan tubuhku. Kuncir kudaku pun meliuk-liuk. Gigiku sampai terasa kering karena aku tak berhenti tertawa-tawa.

Hahaha…seperti adegan di film India saja! Aku semakin keras tertawa, menertawakan diriku sendiri, dan Dokter Bagas yang mau saja dikerjai anak kecil sepertiku.

Hm…ya, mungkin aku hanyalah seorang anak kecil di matanya.

Kami segera menghentikan sepeda setelah mendapatkan tempat yang nyaman untuk duduk-duduk. Kubuka sandal dan meletakkannya di atas pasir untuk kududuki. Dokter Bagas mengikuti.

Kami hanya diam, menatap pantai dan langit yang biru.

“Kamu bisa berenang? Suka berenang?” tanya Dokter Bagas.

“Dok…saya kan tinggal di sini sejak lahir. Pertanyaan Dokter melecehkan deh.”

“Hahhaha…bukan begitu maksudnya…”

“Lalu?”

“Saya punya sahabat yang suka pantai, tapi tak suka berenang, walaupun bisa. Adiknya pernah tergulung ombak. Selamat sih akhirnya, tapi mereka trauma. Sekarang, kalau mereka mau menikmati pantai, mereka pergi ke Ancol, duduk-duduk di restoran sambil memandangi pantai, tanpa pernah menyentuhnya.”

“Kasihan juga ya. Laut memang begitu. Ia bisa sangat bersahabat, namun bisa juga sangat kejam.

“Dulu, ada seorang penduduk di sini yang menggembar-gemborkan dapat menaklukkan laut meskipun sedang badai. Ia sombong sekali. Suatu hari, ia melaut—ia seorang nelayan—saat laut sedang tenang. Angin pun berhembus sepoi-sepoi. Tapi, tak lama kemudian, badai datang. Ia melaut bersama dua orang nelayan yang lain. Tapi, hanya ia yang tidak selamat. Yang lain bisa pulang kembali ke keluarga masing-masing.”

“Kasihan…”

“Oh ya, kembali ke sahabat Dokter. Trauma atau rasa takut kan harus dilawan ya?”

“Betul sekali. Tapi, kita juga tidak bisa memaksakan. Keinginan itu harus timbul dari dalam diri sendiri. Kalau dipaksakan, justru akan menimbulkan rasa takut yang lebih besar.”

“Nanti Dokter mau ambil spesialisasi apa?”

Wajah Dokter Bagas yang sedari tadi menatap lurus ke arah laut, menengok ke arahku. Aku pun menengok ke arahnya.

“Ginekologi.”

“Saya pikir psikiatri.”

“Kamu tahu banyak ya soal kedokteran?”

“Kan Bu Halimah dan Ibu saya sudah cerita kalau saya mau jadi dokter.”

“Hahaha…”

“Kalau kamu, mau ambil spesialisasi apa?”

“Hahaha…Dokter…saya kuliah kedokteran saja belum, kok ditanya mau ambil spesialisasi apa.”

“Saya yakin kamu sudah tahu…”

“Iya sih…hehehe…spesialisasi kulit.”

“Hah?! Kenapa?”

“Hahaha…kaget ya, Dok? Habis warga sini selalu mengeluhkan kulit mereka yang hitam. Sementara, di TV dan majalah, semua orang di kota besar sana putih-putih kulitnya. Saya bertekad mau memutihkan kulit penduduk kita kelahiran saya ini!”

“Hahahaha…kamu bercanda kan?”

“Serius kok!”

“Hahahaha…” kami pun tertawa bersama.

“Kalau Dokter kenapa mau menjadi ginekolog?”

“Karena saya sedih. Banyak sekali ibu-ibu yang meninggal saat melahirkan. Saya ingin menguranginya. Memang umur di tangan Tuhan. Tapi, rasanya akan lebih puas kalau kita sebagai dokter bisa berbuat maksimal.”

“Pernah melihat ada Ibu yang meninggal di hadapan Dokter?”

Dokter Bagas terdiam. Raut wajahnya berubah. Aku jadi menyesal bertanya.

Tatapannya lurus ke depan. Ia menarik nafas panjang, lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang dipaksakan dan terasa pahit.

“Ibuku meninggal saat melahirkan adikku yang bungsu.”

“Maaf, Dok…saya…nggak tahu.”

“Adikku selamat. Aku sayang sekali kepadanya. Yah, aku melihat dia tumbuh tanpa Ibu. Sedih sekali. Apalagi, Bapak memilih tidak menikah lagi. Jadi ya…untung ada kakakku, perempuan. Jadi, si bungsu paling tidak merasakan kasih sayang seorang perempuan, walau bukan ibunya.”

Aku mengangguk-angguk. Entah kenapa harus mengagguk-angguk. Tapi, yang pasti, aku sedang menahan air mataku.

“Gadis, pulang yuk…sudah siang. Aku takut ada pasien ke rumah.”

“Yuk…”

Kami pun bersepeda. Karena rumahku lebih dekat dari pantai tempat kami duduk-duduk tadi, aku diantarnya pulang.

“Nggak makan siang di sini saja, Dok?”

“Terima kasih, Gadis…aku masih kenyang. Sampai nanti ya…terima kasih…”

Ia pun berlalu.

Tapi, tunggu…

Aku…

Aku?

Sejak tadi, ia ber-aku kepadaku? Hah?! Iya, betul. Tidak ber-saya, tapi ber-aku. Kenapa begitu ya?

SELANJUTNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk

8 Komen

  1. Rinurbad Says:

    Nad, saranku nggak usah pake ‘pagi yang cerah’, langsung saja ke kalimat kedua. Kemudian hindari rincian waktu, sebab ini kisah drama, lain halnya bila genrenya misteri/menyangkut investigasi. Anyway, endingnya oke:D

  2. Nadiah Alwi Says:

    Oo gt…hehe..sip2, merci, jeng :)

  3. rina Says:

    sip bu..tinggal nunggu lanjutannya aja..

  4. Afrie Says:

    bagus..pingin juga dong belajar nulis gitu…kadang sering stop ditengah..gak lanjut.. hehehe
    si dokter kenapa kribo ya..?

  5. Nadiah Alwi Says:

    @ rina: makasih…sip, will be soon updated :D

    @ mb afrie: makasih…lanjutin donggg…biar keren aja kribo hahaha…blm pernah liat kan dokter kribo? wakakak…

  6. eka Says:

    Lanjut, Mbak! Lanjutkan!

  7. Nadiah Alwi Says:

    Wah, jadi malu nih…Mbak Eka tulisannya ok2 euy…
    Makasih dah menyemangati ya, Mbak :D
    Lanjutannya segera deh ;)

  8. [cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk | Nadiah Alwi Says:

    [...] SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter [...]

Silakan berkomentar.