[cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk
Posted in CerBung - Dokter Impian on 04/29/2010 05:14 pm by Nadiah AlwiSEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter

“Gadis! Bangun!”
Terdengar suara Ibu yang lantang di telingaku.
Huhuhu…Ibu…tega sekali sih. Aku kan sedang istrahat.
“Kamu itu ya…sekarang sering sekali tidur siang di mana-mana. Di kamar mandi, di kursi depan, di ruang tamu…kenapa sih? Sakit?”
O-ow…Ibu kalau sudah cas-cis-cus begitu, itu tandanya aku memang sudah keterlualuan. Jadi ingat kemarin, waktu aku tertidur saat mengerjakan LKS Matematika. Akhirnya, aku dipanggil Pak Bambang, sang guru, ke depan.
“Kamu kenapa sampai tidur di kelas begitu?” tanya Pak Bambang dengan lembut—ya, beliau memang sangat lembut dan penyayang, seperti Bu Halimah, guru Biologiku.
“Maaf, Pak…kemarin saya belajar sampai malam sekali. Jadi agak ngantuk.”
“Ya sudah, jangan kamu ulangi ya? Kamu kan selalu jadi juara kelas. Pertahankan ya. Tapi, jangan sampai mengganggu kesehatanmu.”
“Baik, Pak. Terima kasih, Pak.”
Aku maluuuuuuuuuu sekali. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku memang ngantuk!
Hm…sebenarnya, kalau aku tidak tidur terlalu larut, aku takkan semengantuk itu. Tapi, bukan mauku kok begitu. Aku tidak minum kopi atau minuman penyegar lainnya supaya tetap terlelap. Tapi, aku selalu sulit tidur.
Insomnia. Ya, kalau tidak salah, penyakitku ini bernama insomnia. Berbagai cara sudah kucoba untuk memejamkan mata, tapi aku tak juga terlelap. Memang akhirnya aku tidur juga, tapi setelah lewat jam dua belas malam. Padahal, biasanya, jam sembilan atau jam sepuluh malam aku sudah tertidur.
Aku harus konsultasi dengan Dokter Bagas!
“Sakit sih nggak, Bu…” jawabku atas pertanyaan Ibu apakah aku sakit atau tidak. “Tapi, aku cek ke Dokter Bagas saja ya, Bu. Takut ada apa-apa.”
“Ya sudah, sana…tanyakan ya. Perlu Ibu antar?”
“Nggak usah, Bu. Aku naik sepeda saja. Assalamu’alaikum!”
Kukayuh sepeda dengan membabi buta. Aku ingin segera sampai di rumah Dokter Bagas.
Tapi, kenapa saat rumah itu mulai terlihat dari kejauhan, rasanya ada jutaan kupu-kupu berkeliaran di perutku? Degup jantungku juga semakin kencang. Tanganku gemetar.
Aku sakit kah?
Tok…tok…tok…kuketuk pintu rumah Dokter. Sudah jam empat sore, semestinya Dokter sedang bersantai di rumah.
Kudengar langkah kaki di dalam. Lalu, pintu pun dibuka. Dokter Bagas muncul dengan wajah kucal.
“Eh…Gadis?”
Lalu, ia menguap.
“Ayo, masuk…”
“Nggak usah. Di sini saja,” aku menunjuk teras.
“Dokter lagi tidur ya? Maaf aku ganggu…”
“Nggak kok. Cuma memang semalam aku dipanggil ke rumah Pak Buyung. Anaknya demam tinggi. Jadi aku stand by di sana sampai Subuh.”
“Jadi, aku ganggu kan?”
“Nggak…betul! Tapi, ada apa, Gadis? Kok tiba-tiba datang? Ada yang sakit?”
Aku menggeleng.
“Oh?”
“Eh, ada…saya…aku…aku sakit kayaknya, Dok.”
“Sakit apa?”
“Insomnia.”
“Hah? Hahaha…kok bisa?”
“Ih, Dokter. Orang sakit kok malah ketawa?!”
“Hehehe…maaf.”
“Jadi, kenapa kamu nggak bisa tidur?”
Nah, ini pertanyaan yang sulit. Sebenarnya aku tahu apa penyebabnya. Tapi, tak mungkin kuberitahukan kepada Dokter Bagas, kepada siapapun.
“Kok diam?”
“Mungkin aku perlu obat tidur, Dok.”
“Memberi obat tidur itu nggak boleh sembarangan, Gadis.”
“Jadi, aku harus bagaimana?”
“Ya tidur.”
“Ya nggak bisa.”
“Ya diusahakan.”
“Duh, Dokter bagaimana sih? Aku kan minta diobati, bukan dimarahi.”
Dokter Bagas tersenyum.
“Jangan ketawa…”
“Hahahaha!”
“Tuuh kan, ketawa!”
“Kalau kamu nggak kasih tahu penyebabnya, mana bisa aku mengobati. Bukan karena pelajaran di sekolah kan? Soalnya, kata Bu Halimah, kamu termasuk murid terpintar di sekolah.”
Aku menggeleng.
“Hmmmh…aku pulang saja deh, Dok.”
“Ngambek?”
“Ih! Nggak. Sebaiknya aku cari sendiri penyembuhannya.”
“Silakan. Kalau kamu sudah tahu cara menyembuhkan insomniamu, beri tahu aku yaaa…”
“Nggak mau…”
“Pelit…”
“Memang…”
“Hahahaha,” kami tertawa bersama.
“Aku pulang ya, Dok…”
“Ok…”
Sebelum sepedaku melaju jauh dari rumah dinasnya, Dokter Bagas berteriak, “Kapan-kapan kita ke pantai lagi yaaa.”
Kuacungkan jempol tanda setuju.
Ke pantai bersama Dokter Bagas…pasti menyenangkan. Tapi, sepertinya sekarang aku pun butuh ke sana. Sebentar saja. Sendiri.
Angin terasa lebih kencang. Aku duduk di bawah sebuah pohon kelapa—aku sudah melihat ke atas, tidak ada kelapanya…mungkin sudah dipetik, jadi aku tak perlu khawatir kejatuhan. Sepeda sudah kusandarkan di sisi lain pohon.
Lalu, bayangannya kembali datang. Duh, kenapa dia terus muncul di dalam kepalaku ya? Aku lelah harus selalu melihat senyumnya, tawanya, wajah seriusnya, bahkan wajah sedihnya saat ia menceritakan kisah ibu dan adiknya yang memilukan itu.
Dalam sehari, bisa berkali-kali ia muncul. Dan, memang seringnya di malam hari, baik saat aku sedang belajar ataupun saat aku hendak tidur. Konsentrasi belajarku jadi terganggu. Aku jadi sulit tidur.
Apa yang sebenarnya sedang kurasakan?
Apakah…aku…jatuh…cinta?
Menurut salah satu artikel di majalah Wiwin, sepertinya ya, aku jatuh cinta. Tapi, kok bisa? Sudah bolehkah aku jatuh cinta? Sudah bisakah aku jatuh cinta?
Jadi, seperti inikah rasanya jatuh cinta?
[picture by leovdworp, netherland]

