[cerbung - DOKTER IMPIAN] 6. Jatuh Cinta?

SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk

Sudah hari Minggu. Aku bangun pagi sekali walaupun semalam mataku sulit terpejam. Aku teringat ajakan Dokter Bagas ke pantai. Hm…serius tidak ya?

Kukayuh sepedaku ke arah rumah dinas Dokter Bagas. Kupikir, sebaiknya aku lewat saja dulu, nanti kalau memang kira-kira Dokter Bagas ada, aku mampir.

Seperti biasa, kupu-kupu lagi-lagi berterbangan di sela-sela rongga perutku. Oksigen di bumi ini sekan habis dan tak lagi terisa untukku sehingga aku tak sanggup lagi bernafas. Tanganku gemetar.

Ah, ini jatuh cinta atau penyakit parah sih? Kok aku tersiksa begini?!

Wah! Dokter Bagas sedang berdiri di samping rumahnya! Ia sedang memandangi mawar-mawar Dokter Putri.

“Dokter Bagas!” teriakku.

Duh…kenapa aku sampai beteriak begini?!!!

“Hai! Mampir?!” balasnya.

Kubelokkan sepeda ke arah samping rumah sang Dokter.

“Lagi berkebun, Dok?”

“Kelihatannya?”

“Kelihatannya seperti sedang mengoperasi. Hehehe…”

“Asal! Ini…tadi aku diberitahu cara merawat mawar oleh Pak Danu. Gampang-gampang susah ya.”

“Tapi, lebih banyak gampangnya kan, Dok…”

“Hehehe…tapi masih harus banyak belajar. Kamu mau ke mana?”

Waduh…

“Hmmm…gak ke mana-mana. Cuma mau jalan-jalan, keliling.”

“Aku ikut ya?”

“Boleh!”

“Tapi kita ke rumah Bu Mimin dulu. Kemarin dia sakit, aku mau lihat keadaannya. Gimana?”

“Boleh!”

“Terus, kita ke pantai. Mau?”

“Boleh!”

“Boleh-boleh terus.”

“Hehehe…”

Duh, si Dokter…enggak tahu apa kalau aku lagi grogi?!

Dokter Bagas sudah masuk ke rumahnya. Sementara, aku memilih menenangkan diri dan berpura-pura memerhatikan mawar-mawar yang indah di kebunnya.

Tak lama kemudian, Dokter Bagas keluar dengan pakaiannya yang rapi dan membawa dua gelas air putih.

“Mau?” tanyanya sambil menyodorkan gelas yang dipegangnya dengan tangan kanan kepadaku.

Aku mengangguk dan meraih gelas itu. Lumayan untuk membantu mengurangi grogi.

Setelah kedua gelas kosong, Dokter Bagas meletakkannya di dapur, lalu mengambil sepedanya yang di boncengannya sudah bertengger tas kerjanya. Pasti berisi stetoskop dan alat tensi darah.

“Oh ya, kita mampir ke rumah Bu Yusrin ya, nanti siang?” pinta Dokter Bagas sambil mengayuh sepedanya dengan santai

“Mau apa? Bu Yusrin sakit?”

“Enggak. Tadi pagi, pegawainya ke rumah. Aku diundang makan siang di sana. Tapi, aku malas sendiri. Kamu ikut ya?”

“Tapi, aku kan enggak diundang.”

“Aku yang mengundang.”

“Memang bisa begitu? Dokter saja diundang, kok malah mengundang orang lain sih?”

“Jadi, kamu enggak mau ikut?”

Aku menggeleng.

“Berarti kamu kehilangan kesempatan.”

“Kesempatan apa?”

“Kesempatan mendengarkan ceritaku mengenai kuliah kedokteran.”

“Aaaahhh…curang!”

“Loh? Kok curang?”

“Jadi, kalau aku ikut, Dokter mau cerita?”

Ia mengangguk.

“Ya sudah…aku ikut!”

“Nah…gitu dong!”

“Sebel!”

Kami melanjutkan mengayuh sepeda masing-masing dengan santai. Sesekali kulirik Dokter Bagas. Wajahnya tenang sekali, teduh. Ia benar-benar cocok menjadi seorang Dokter. Kubayangkan suatu hari nanti ia akan menjadi Dokter Kandungan favorit di tempat tinggalnya.

Hm…suatu hari nanti itu, aku sudah jadi apa ya?

Dokter juga. Dokter Anak.

Aku memang ingin jadi Dokter Anak. Saat aku bercerita kepada Dokter Bagas bahwa aku ingin jadi Dokter Kulit, itu hanya bercanda. Sebetulnya itu candaan teman-temanku di sekolah. Karena, dari sekian anak, hanya aku yang bersikukuh hendak jadi dokter.

“Gadis!”

“Gadis!”

“Gadiiis!”

“Eh?”

“Bengong lagi…”

Aku meringis.

“Kita sudah sampai di rumah Bu Mimin.”

“Iya, Dok…aku tahu.”

“Loohhh…mana mungkin. Dari tadi wajahmu itu lurus ke depan sambil tersenyum-senyum. Pasti enggak sadar kalau rumah Bu Mimin sudah dekat.”

Benar juga sih. Kalau tidak dipanggil Dokter Bagas, pasti aku sudah bablas ke depan sana. Hm…tapi, berarti tadi itu Dokter Bagas memerhatikan wajahku ya?

Duuuhhh…

Kami pun berbelok ke rumah Bu Mimin. Rumahnya sederhana tapi rapi. Tak ada kursi, jadi kami harus lesehan di lantai. Bu Mimin sedang berbaring di atas kasur tipis di salah satu sudut ruangan.

Dokter Bagas menghampirinya. Sementara itu, aku tetap duduk sambil mengobrol dengan anak bungsu Bu Mimin, Kak Sari, sambil sesekali memerhatikan Dokter Bagas yang sedang memeriksa Bu Mimin dengan stetoskop dan alat tensi darahnya. Ia melakukannya dengan perlahan, tenang dan sopan. Tak lupa sekalipun menyunggingkan senyum di bibirnya.

Kak Sari terus saja mengoceh, menceritakan keadaan Bu Mimin dari saat pertama ia sakit hingga sekarang. Aku hanya mengangguk-angguk, pura-pura menyimak dengan baik, padahal pikiranku sedang bertumpu pada Dokter Bagas.

Ya, kurasa aku memang jatuh cinta. Entah kenapa…entah bagaimana…aku tak tahu sama sekali.

Wajahnya biasa saja. Rambutnya pun tergolong aneh untuk rambut seorang dokter—dalam bayanganku semua dokter berambut lurus! Memang tubuhnya tegap. Tapi, tidak segagah yang kuperkirakan.

Sifatnya juga aneh. Kadang ia begitu pemalu, sementara di lain waktu ia bisa begitu lepasnya.

“Gadis…”

“Gadis!”

Bisikan tegas Dokter Bagas dan jawilannya di bahuku membuyarkan lamunanku.

“Eh…eh…iya…sudah selesai, Dok?”

“Sudah.”

Aku meringis. Lagi-lagi ia mendapatiku sedang bengong tidak karuan.

“Mbak, tolong obat yang kemarin saya kasih diteruskan ya. Sepertinya Ibu sudah membaik. Kalau ada apa-apa ke rumah saja.”

“Baik, Dok. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama…”

“Mari, Kak…” aku pun turut pamit.

“Mari…”

Aku dan Dokter Bagas mengayuh sepeda masing-masing. sesekali aku melirik ke arahnya. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku mengaguminya. Tapi, itu tidak mungkin! Aku tak berani!

Lagipula, di matanya, aku hanyalah seorang anak kecil yang bisa diajaknya bersepeda dan duduk-duduk di pantai, seorang anak yang memiliki cita-cita semulia cita-citanya dulu saat ia seumurku.

Kami tiba di pantai, lalu langsung merebahkan sepeda masing-masing di atas pantai yang hangat. Aku langsung melangkah ke tepi laut. Memain-mainkan air, memungut kerang dan melemparkannya lagi ke hamparan air yang luas itu.

Dokter Bagas yang awalnya memilih duduk-duduk menghampiriku.

“Kamu lagi kenapa?” tanyanya langsung.

“Lagi sedih…”

“Sedih kenapa?”

“Gara-gara insomnia.”

“Hah?! Hahaha…hahaha…”

Dokter Bagas terus tertawa dan sepertinya susah berhenti.

“Iiihhh…orang lagi susah kok diketawain sih?”

“Ehemmm…maaf deh. Jadi belum sembuh juga insomnianya?”

Aku menggeleng.

“Sudah tahu penyebabnya?”

Aku mengangguk.

“Apa?”

“Eh, belum…belum tahu…”

“Ya diketahui dulu masalahnya. Dari sana baru bisa didignosa ‘penyakitmu’ itu.”

“Masalahnya sampai mengganggu sekolah.”

“Oh ya?”

“Iya. Aku sampai tertidur di kelas!”

“Haaahhh? Calon dokter tertidur di kelas? Wah, enggak ada ceritanya tuh begitu.”

“Ini juga baru yang pertama kalinya. Dulu-dulu mana pernah…”

“Jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta?!”

“Haaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh? Sembarangan deh dokter!”

“Loh…jatuh cinta kan wajar saja.”

“Tapi, aku kan baru enam belas tahun!”

“Waktu aku enam belas tahun, aku sudah pacaran…”

Aku memandangnya lekat-lekat. Mukaku terasa panas. Apa maksudnya?

“Di sini, kalau umur enam belas tahun sudah pacaran, umur tujuh belas sudah dinikahkan!”

“Yaahhh…batal dong jadi dokternya.”

“Nah…makanya aku enggak mau pacaran!”

“Makanya kamu jadi penyendiri…”

“Maksud Dokter?”

“Kata Wiwin, kamu selalu sendiri. Enggak punya teman laki-laki, teman perempuan pun segelintir.”

“Karena mereka menganggapku aneh. Mereka pikir cita-citaku terlalu muluk. Mereka pikir aku terlalu menganggap serius sekolahku.”

“Mereka enggak serius sekolah?”

Aku tersenyum, “Kalaupun serius untuk apa? Dokter tahu, meski mereka berhasil sekolah sampai SMA, mereka enggak tahu apa yang akan mereka lakukan setelahnya. Kerja? Di mana? Lapangan pekerjaan apa yang bisa diberikan pulau kecil seperti ini? Ke kota besar? Mereka pikir kota besar yang letaknya nun jauh di sana itu hanya khayalan.”

“Lalu, kenapa kamu bisa berbeda? Kenapa kamu bisa bercita-cita menjadi dokter?”

“Berkat Dokter Putri, Dokter Jessica, dan Dokter Nadya. Bapakku tertolong berkat bantuan Dokter Nadya. Semenjak saat itu, aku selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah dinas dokter, siapapun dokternya. Aku bertanya, mengobrol, bermain-main di sana.”

“Jadi bukan untuk memutihkan kulit warga kota ini?”

“Hahahhaha! Masih ingat saja, Dok. Aku bercanda.”

“Aku pikir kamu serius. Hahahaha!”

Lalu kami tertawa-tawa bersama, tersenyum-senyum sambil menelusuri tepian pantai yang hangat.

“Dok…Wiwin yang cerita tentang aku atau Dokter yang tanya?”

“Hm…ada bedanya ya?”

“Iyalah…duh, Dokter kan semestinya pintar. Kok begitu saja enggak bisa melihat perbedanya sih!”

“Yah, maksudku, kan sama saja. Yang penting, waktu itu kami membahas betapa penyendirinya dan pandainya kamu.”

“Tapi, Dokter yang tanya atau Wiwin yang inisiatif bercerita?”

“Aku yang tanya. Kenapa memangnya?”

Aku menggeleng. “Enggak apa.”

“Loh…tadi katanya ada bedanya. Apa bedanya?”

“Kenapa dokter tanya-tanya tentang aku ke Wiwin ?”

“Kenapa ya? Hm..jadi begini. Dua hari yang lalu kan Adik Wiwin sakit. Wiwin yang antar. Waktu lagi periksa adiknya, dia cerita bahwa dia sekolah di SMA 1. Lalu, aku tanya, kenal kamu atau tidak. Dia bilang kenal. Katanya, kamu suka pinjam majalah sama dia. Lalu aku tanya kamu orangnya seperti apa. Dan, mulai deh Wiwin cerita.”

“Cerita apa saja?”

“Katanya kamu pintar, kesayangan guru, terutama Bu Halimah. Lalu, dia bilang, kamu penyendiri, padahal aslinya kamu anak yang ceria. Cuma, kamu terlalu senang belajar.”

“Cuma itu?”

“Katanya, belakangan ini kamu agak aneh.”

“Ada lagi?”

“Enggak.”

Aku mengangguk-angguk.

“Enggak mau cerita tentang keanehan kamu belakangan ini?”

Aku menggeleng.

“Ya sudah.”

Lalu, kami berbalik dan kembali ke tempat di mana kami meletakkan sepeda, dalam diam.

Tapi, tiba-tiba, Dokter Bagas menarik tanganku keras, sehingga aku bergeser beberapa langkah ke dekatnya.

“Kamu enggak lihat? Itu, ada bongkahan kerang.”

Ia mengambil kerang yang pecah itu. Memang tajam nampaknya.

“Terima kasih, Dok.”

Ia mengangguk.

“Kita ke rumah Bu Yusrin ya? Sudah hampir jam makan siang.”

Aku mengangguk.

Lalu kami bersama menelusuri jalan menuju rumah Bu Yusrin.

Tanganku…masih kurasakan genggaman kuat Dokter Bagas di sana. Seperti aliran listrik, rasa itu bahkan menyambar jantungku yang terus berdegus kencang hingga akhirnya kami berpisah di depan rumahku, setelah ia mengantarku pulang dari rumah Bu Yusrin.

SELANJUTNYA: [cerbung - Dokter Impian] 7. Rasa yang Tidak Indah

Foto dari: Image2012.com

7 Comments on [cerbung - DOKTER IMPIAN] 6. Jatuh Cinta?

  1. Mila
    June 4, 2013 at 18:06 (1 year ago)

    Wah ini aku udah ketinggalan brp seri nih

  2. mila
    July 10, 2013 at 14:46 (1 year ago)

    aaaw.. bacanya jd pengen jatuh cinta lagi #eh #loh

  3. mebel jepara
    August 18, 2013 at 02:34 (1 year ago)

    bisa ja ni .
    kalo di kampung yang biasa nulis artikel seperti ini di juluki sardot .
    hehe..
    piisss..
    salam

  4. hasya azizah a
    August 18, 2013 at 13:08 (1 year ago)

    wahh,seru banget :D ,, ini mah bener tentang falling in love.,. :) )

    kuharap kunjungan balik blog ku yaaa

    hasyazizah.blogspot.com/2013/08/cantik-mu-adalah-jilbab-mu-cerbung-ke-1.html

    makasih :D

  5. velienda
    May 12, 2014 at 18:55 (4 months ago)

    hamper sama nama dari pada tokoh nama dokter di cerita ini dengan seseorang yang pernah saya kenal..tamks for story

  6. Nadiah Alwi
    July 6, 2014 at 10:12 (3 months ago)

    :) sama2

1Pingbacks & Trackbacks on [cerbung - DOKTER IMPIAN] 6. Jatuh Cinta?

Leave a Reply