Hari ini adalah hari kelahiran saya. Sudah 32 tahun ini saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk bermukim di bumi.
Saya tidak merayakannya di dunia offline, tapi di dunia online saya mengadakan semacam syukuran dengan menggelar sayembara di toko buku online saya, http;//bukumurmer.multiply.com.
Dana yang awalnya sempat hendak saya gunakan untuk perayaan di dunia offline saya berikan kepada Mama. Karena, saya berkeyakinan bahwa yang lebih berhak diberikan ucapan selamat atau hadiah adalah seorang ibu karena ia yang bersusah payah mengeluarkan si jabang bayi di ruang bersalin.
Tapi, tadi sore, saya ke pasar untuk mengajak Hana, anak saya, dan Mama. Sekedar iseng-iseng saja. Saya membeli dua bungkus pempek — satu untuk Mama, satu untuk saya — dan duren sebatu –bukan sekepala.
Meski hari ini hari yang spesial, tetap saja tak luput dari hal-hal yang membuat kesal. Tapi, alhamdulillah, saya mampu melihat sisi lain dari kekesalan atau kekecewaan itu. Kenapa?
Karena, saya dibayar kontan oleh-Nya. Sempat tercengang. Saya tidak mengharapkan hadiah apapun — walau seorang sahabat telah lebih dulu menghadiahkan sebuah buku idaman dua hari yang lalu. Bahkan, sebenarnya memang sudah saya canangkan untuk memberi di hari pertama usia saya yang ke-32 ini, tidak untuk menerima — meski sempat juga meminta kepada si Abi alias suami tercinta untuk dicarikan software web di dunia maya. Tapi, Yang Maha Mengetahui kembali menunjukkan, saya yang berencana, Ia Yang Menentukan. Subhanallah.
Malam tadi ada yang memberikan hadiah untuk saya dan nominalnya melebihi apa yang telah saya keluarkan hari ini. Hadiah itu tentu sangat berharga bagi saya. Tapi, sebenarnya, ada yang lebih berharga lagi. Pelajaran akan kehidupan.
Bahwa, saya tidak tahu apa-apa. Bahwa, yang paling tahu yang terbaik untuk saya adalah Yang Menciptakan saya.
Belakangan ini, saya akui, begitu banyak hal terjadi dalam hidup saya. Sebagai manusia yang diberikan kemampuan bertanya, terkadang muncul juga di kepala saya pertanyaan, “Why?”
Kadang saya dapat melihat hikmah di balik semua. Di lain kesempatan saya hanya dapat menerka apa maksud semua itu. Bahkan pernah juga ada masanya saya bingung dan tak ada clue sama sekali.
Mungkin Ia ingin saya paham bahwa apapun itu, Ia menjadikannya takdir untuk saya karena tak ada hal lain yang lebih baik yang dapat terjadi dalam hidup saya. Mungkin jika ia menakdirkan hal lain, saya takkan sanggup menjalaninya.
Lucu sekali. Saya tidak berniat berkontemplasi di hari istimewa ini. Tapi, lihat saja apa jadinya. Dan, oh, saya sangat teramat bersyukur karenanya.
Selamat ulang tahun, Nadiah Alwi.

Dengan tidak mengurangi rasa coklat, harap traktiran gak berupa barang ataw jasa ya Nad..
Hwaaaa mengharukan..aku bahagia sekali untukmu, Nad.
Bahagia benar hari ini saya menemukan yg se-ide, bahwa di kala seseorang berulang tahun, maka yg paling pantas diberi selamat adalah ibu yg melahirkan dan menyayanginya.
terima kasih atas kunjungan ke blog saya.
Barakallah adinda..
@ Anggi: huehehe…coklat buat Hana kaaan?
@ Rini: Makasih, Jeng…
@ D: Terima kasih, Mbak…juga untuk kunjungan Mbak ke sini