Didengar dan Mendengar

Suatu hari aku mengeluhkan ketidakberuntunganku kepada seorang teman. Responnya membuatku terhenyak.

“Mungkin Allah memberi anugrah dalam bentuk yang lain, Nad.”

Ah, ia betul. Aku semestinya tahu itu. Tapi, kadang mata kita terbutakan entah oleh apa — emosi, rasa kecewa, ekspektasi yang terlalu tinggi. Dan, kata-kata sederhana namun mengena dari orang lain yang sedang berpikiran jauh lebih jernih dari kita sangatlah berguna.

Ya kan? Kalau lagi sedih, sulit bagi kita untuk berpikiran jernih. Semua nampak salah dan suram. Dan, teman yang baik adalah teman yang membuka pikiran kita. Dan, ada baiknya juga jika kita bersedia membuka diri untuk sekedar meresapi kata-katanya.

Ini ada sedikit hubungannya dengan postinganku sebelumnya tentang “Curahan Hati.” Maksudku, jika kita sudah menuntut seseorang mendengarkan keluhan kita, kurasa cukup adil jika kita juga mau mendengarkan pendapat dan sarannya. Kalau perlu, lakukan — jangan hanya didengar lalu menguap begitu saja. Jika kita ingin didengar, kita pun harus mendengar.

Jadi, paling tidak curhat kita itu juga ada guna dan maknanya, bukan sekedar meluapkan emosi.

Sebenarnya, ini self reminder…hehehe…tapi harap maklum, rasa ingin sharing-ku lagi tinggi…

;)

Silakan berkomentar.