Saat masih kecil hingga remaja dulu, saya yang tinggal bersama kakek dan nenek dijaga bak porselen. Jika ingin pergi, diantar dengan mobil atau minimal naik bajaj–ini yang membuat salah satu sahabat saya mencap saya sebagai gadis bajaj
.
Di SD, ada mobil antar jemput dari sekolah. Tapi, saat saya duduk di bangku SMP, saya harus naik bus umum.
Itu pun karena desakan orang tua saya. Meski tinggal dengan kakek-nenek, untuk urusan sekolah dan tetek bengek lainnya, orang tua saya yang menanggung semua biaya.
Jika harus naik bajaj pergi-pulang, biaya yang harus mereka keluarkan terlalu besar. Padahal, jika naik bus, orang tua hanya perlu memberikan uang jajan Rp. 500 – 700,- sehari (tahun ’89 – ’92).
Walau begitu, saya hanya boleh naik bus saat pergi dan pulang sekolah. Selebihnya tidak.
Maka saya pun belajar menyesuaikan diri. Selama seminggu pertama di SMP, saya pulang-pergi ke sekolah naik bus dengan ditemani asisten rumah tangga yang memang dipercaya. Setelah yakin dan mantap bisa naik bus sendiri, asisten itu tak lagi menemani.
Saat saya SMA, dengan sopir pribadinya kakek mengantar saya dan adik ke sekolah sebelum berangkat bekerja. Tahun ’94 kakek saya meninggal dunia. Fasilitas antar dengan mobil pun terhenti.
Saya kembali menyesuaikan diri dengan bus kota.
Saat kuliah, penyesuaian itu lagi-lagi harus terjadi. Kampus saya yang berlokasi di Depok membuat saya terpaksa memilih kereta, KRL, karena jika naik bus, saya harus berganti dua kali.
Dari awalnya merasa takut sampai saya merasa nyaman naik kereta yang kerap saya dan teman-teman panggil ‘kereta cinta‘ karena kami bisa ngecengin senior-senior yang ok di dalamnya.
Setelah lulus kuliah, saya bekerja. Kadang ikut Mama yang diantar Papa ke kantor dengan mobil, kadang naik bus–walau saya pernah trauma dengan bus tertentu karena pernah dicopet dan HP saya yang belum lunas cicilannya raib.
Hampir dua tahun bekerja, saya bertemu dengan tambatan hati yang sekarang menjadi suami. Dan, cinta memang mampu mengalahkan segalanya.
Kakek saya juga tak pernah mengijinkan saya dibonceng motor meski beberapa oom saya memiliki motor. Jadi, saya takut sekali naik motor, terlebih karena Kakek saya meninggal pun karena tertabrak motor.
Saya tak pernah naik ojek. Saat kuliah dulu pernah dibonceng seorang teman perempuan yang memang membawa motor ke kampus. Sepanjang jalan saya deg-degan!
Dan, pria yang membuat saya jatuh cinta itu ternyata ke mana-mana naik motor. Maka, saya pun sudi dibonceng olehnya jika harus pergi ke suatu tempat.
Saya menyesuaikan diri, sekali lagi. Sekarang, jika memang sedang jam macet, saya memilih diantar olehnya.
Tentu saja, di atas jok motor, saya masih merasa deg-degan. Sepanjang jalan mulut saya tak hentinya melafalkan do’a keselamatan. Hm…terkadang sok-sok jadi navigator cerewet juga sih.
Berkaca pada semua kisah hidup saya dengan beragam jenis kendaraan, saya pun mengambil kesimpulan. Hidup, hakikatnya, adalah penyesuaian. Karena, jika tidak, kita akan sulit menemukan ketenangan dan kebahagiaan.
Bayangkan, jika saya tidak menyesuaikan diri dengan semua jenis kendaraan yang saya sebut di atas, saya takkan bisa ke mana-mana. Diam di tempat, seperti kura-kura yang kepalanya terus berada dalam tempurung.
Dan, oh, saya akan sangat membenci hidup saya. Saya takkan bisa merasa bahagia…

ooh gadis bajaj…hehehehe..cie..cie…’punya rumah’ banyak ni ye di dunia maya. Semoga di dunia nyatapun segera mendapatkan rumah yang banyak dan dekat ke pusat kota…amiiinn…(pusat kota tebet maksudnya yaa hehehe..bukan pusat kota bogor gitu
)
yup…karena kalau kita gak menyesuaikan dengan keadaan kadang yang susah ya diri sendiri…
setujuh Nad
beh..jadi inget dulu..
kmaren Gwa isengin Luw sampe nangis..beskonya Gwa ditungguin Kakek Luw Nad..hauhuahhua..
(saved by Bang Nunung en Bang Topik)..
Kapan Kita ngumpul lagi di rumah Luw Nad ?..Makan Kembang Tahu rame-rame..
(sialan tuh POM Bensin ngalangin pemandangan aja sekarang)..