Kangen
Posted in Keluarga and tagged with Keluarga on 01/28/2010 10:11 pm by Nadiah Alwi
Tadi sore, sepulang dari Duren Sawit, basecamp KainIkat.com, aku terhenyak. Di dalam bus kopaja 612 yang kutumpangi, duduk seorang nenek yang hampir saja membuatku menangis di tempat.
Bukan, bukan karena beliau tampak mengenaskan — misalnya berbaju lusuh atau nampak tak terawat. Justru sebaliknya.
Beliau sangat rapi. Kulitnya bersih, tasnya nampak masih bagus, baju lengan panjang dan celana panjangnya yang berwarna coklat dengan motif bunga kecil-kecil juga sangat rapi. Tudung rajut coklat kepalanya juga masih apik. Cincin di tangannya pun nampak cantik — dan, ya, aku memperhatikan semua yang ada pada dirinya.
Beliau mengingatkan aku kepada Jiddah, nenekku yang telah berpulang tiga tahun yang lalu. Gelambir di pipi dan leher…seindah gelambir di pipi dan leher Jiddah yang dulu sering kusentuh dengan gemas.
Sisa kecantikan beliau…serupa dengan sisa kecantikan yang nampak di wajah Jiddah.
Sungguh tadi aku ingin sekali menangis. Tapi, kutahan.
Aku juga ingin memfoto beliau dengan HP-ku — tanpa sepengetahuan beliau tentunya. Tapi, kuurungkan. Bukan karena takut ketahuan. Melainkan karena aku tak ingin membawa rasa kangen itu hingga ke rumah.
Namun, mau tak mau terbawa juga. Setiap sudut rumah yang kutinggali saat ini dipenuhi kenangan tentang Jiddah. Aku ingat di mana Jiddah dulu duduk menonton tv, menikmati kursi goyangnya, menyendok bubuk Milo dari toples sebagai cemilan, bahkan hingga di mana-mana saja Jiddah pernah terjatuh.
Aku tahu, tak ada yang abadi. Suatu hari, aku takkan bisa menikmati tiap sudut itu lagi. Sebagaimana aku tak bisa menikmati gelambir di pipi dan leher Jiddah pada jemariku. Tapi, aku menyimpan semua di hati, dalam kenangan. Seperti kenangan tadi sore.
Dan, di dalam bus 612, ingin sekali kuelus pundak si nenek cantik itu saat beliau terbatuk. Batuknya pun persis seperti Jiddah. Namun, aku takut tindakanku tergolong tidak sopan untuk orang yang tidak saling mengenal.
Saat terbatuk, beliau mengeluarkan sapu tangan. Ya Allah, sapu tangannya sama dengan sapu tangan Jiddah! Sapu tangan kotak-kotak putih oranye kekuningan.
Ingin kukatakan kepada beliau bahwa meski tak mengenalnya, aku merasakan kasih sayang di hati saat melihatnya. Tapi, aku sudah harus turun dari bus.
Ah, andai aku dapat memeluk nenek itu…mungkin rasa kangen itu terobati…atau tidak? Wallahualam.
*Al-fathihah untuk Jiddah dan Jid*
Foto dari SINI.


January 29th, 2010 at 14:07
Hiks, jadi sedih..