Menghadapi Revisi

televisiBeberapa waktu belakangan ini, saya ikut terlibat dalam penulisan skrip sebuah docu-drama. Menarik. Saya jadi bisa melatih diri dalam pembuatan skrip. Salah satu impian saya.

Namun, ternyata mau tak mau, saya juga harus berjumpa dengan serangkaian revisi. Mulai dari revisi pada penulisan hingga revisi yang berkenaan dengan daya jual naskah.

Awalnya, gemas juga dengan revisi-revisi tersebut, apalagi acara tersebut kejar tayang. Jadi, revisi harus dilakukan segera.

Namun, belakangan, saya sudah mulai agak terbiasa.

Revisi memang tidak bisa dihindari. Ada unsur selera juga yang bermain. Memang, ada pakem-pakem yang sudah disepakati bersama. Namun, tak dapat dipungkiri, selera setiap orang berbeda.

Apapun hasilnya, saya menghargai betul kesempatan pertama ini. Saya dapat berlajar banyak hal. Terutama, melalui revisi-revisi tersebut.

Dan, memang itu yang saya kejar dari setiap pekerjaan yang saya jalani. Tak apalah jika saya belum berkesempatan mengenyam pendidikan yang lebin tinggi lagi — saya pernah bermimpi mengambil master dalam bidang creative writing. Saya ternyata dapat belajar banyak dari serangkaian pekerjaan yang saya jalani sekarang.

2 Komen

  1. om browny Says:

    proses pengembangan diri yang paling jitu adalah belajar dari ke alpaan diri sendiri….kita dipaksa menjadi mencari, menemukan, meyalahi diri sendiri sekaligus belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama (walau kadang masih sih)………tapi rewardnya adalah semakin terbuka pintu kesuksesan

    jangan pernah lelah buat maju yeeee bu……

  2. om browny Says:

    ni salah satu revisi yang harus dilakukan…..harusnya menyalahi bukan meyalahi…..hihihihihihihihihihihihihi

Silakan berkomentar.