Pernak-pernik Rumah

Sebenarnya, aku berprinsip, jika bisa minimalis, kenapa harus maksimalis. :) maksa ya?

hiasan-rumahJadi gini, tadi aku iseng-iseng merapikan rumah. Korban kali ini adalah pernak-pernik almarhum Nenekku yang penuh debu di salah satu lemari.

Satu per satu aku bersihkan dari debu. Aku lap. Aku tata ulang. Huhuhu…jadi kangen Nenekku. Kangen banget.

Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tiba-tiba terpikir, Nenekku itu memang kolektor pernak-pernik rumah sejati. Beragam barang ada — dan itu hanya sebagian yang tersisa. Banyak yang sudah pecah atau hilang.

Lucu-lucu, cantik-cantik.

Aku yang sok minimalis ini, saat membersihkan barang-barang itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa orang bisa-bisanya membeli semua itu? Hanya untuk dipajang?

perabotan-rumahAku terus membersihkan. Dan, lambat laun, aku kok seperti merasakan kesenangan tersendiri? Dan, setelah menyentuh barang-barang itu satu per satu, mengelapnya, menatanya, aku mulai paham, mengapa Nenekku menyukai barang-barang tersebut.

Mereka indah dan sedap dipandang mata.

Mudah-mudahan aku bisa terus menjaga semua barang-barang itu ya. Mungkin paling tidak sampai nanti ada anak-anak atau menantu-menantunya yang menginginkan barang-barang tersebut. Atau, nanti jika punya rumah sendiri, aku akan membawanya ke rumahku — mungkin saat itu aku sudah menjadi seorang maksimalis. ;)

Cewek-cewek di FB

cewekSeperti era FS dulu, sekarang di FB pun beredar cewek-cewek nggak jelas. Ada yang mengaku-ngaku alumni suatu universitas atau SMA tertentu tapi kok sepertinya dulu nggak ada yang namanya itu dan berwajah begitu. Parahnya lagi, mengaku-ngaku angkatan tertentu tapi fotonya terlihat 15 tahun lebih muda (operasi plastik?).

Kalau yang perempuan sih pasti langsung unapprove/reject atau minimal didiamkan dulu sampai akhirnya jelas identitas orang tersebut, siapa dia. Tapi, yang laki-laki? Ada yang tentu dengan senang hati meng-approve permohonan “pertemanan” dari cewek-cewek tidak jelas seperti itu — nggak semua sih, tapi ada.

Jadi, seakan-akan cewek-cewek tersebut memang bagian dari komunitas itu. Bahkan, ada yang akhirnya meng-approve karena dikiranya memang satu almamater atau memang teman karena ada friends in common-nya.

Sebenarnya sih bahayanya tak terlalu besar — walau berbahaya juga — jika si laki-laki tidak mengembangkan “pertemanan” tak jelas itu ke dunia nyata. Tapi, nggak ada salahnya untuk berhati-hati. Penipuan bisa dilakukan dengan cara yang kadang tak terbayangkan.

Bukan nakut-nakutin. Tapi, jaman sekarang gitu loh. Dari iseng-iseng berhadiah sampai iseng-iseng berbuah sial — amit-amit jabang bayi!

[Gambar oleh: Gabriella Fabbri]

| Setelah selesai publish postingan ini, aku baca postinganku sebelumnya. Tentang berbaik sangka. Ooppsss…apakah aku sedang tidak berbaik sangka? |

[Pengajian Ustadzah Halimah] Berbaik Sangka

foto islamiAlhamdulillah, pagi ini aku kembali berkesempatan untuk mengikuti pengajian bulanan Ustadzah Halimah Alaydrus di Tebet. Seperti beberapa pengajian sebelumnya, entah bagaimana somehow temanya seperti nyambung dengan apa yang ada di pikiranku atau suasana hatiku.

Kali ini temanya adalah berbaik sangka kepada Allah SWT dan hamba-hamba-Nya. Aku berusaha menyarikannya di sini sesuai dengan kemampuanku dalam menyerap pengajian tadi ya. Harap maklum jika banyak kekurangan.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada Allah SWT

Sering kita sebagai manusia selalu merasa dirundung malang, ditimba berbagai musibah, dan dilibat berbagai masalah. Kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung. Padahal, hey, semua orang juga punya masalah.

Yang sudah cukup umurnya namun belum menikah, merasa punya masalah. Yang sudah menikah, suaminya tampan dan ramah, juga punya masalah — cemburu, misalnya. Yang sudah menikah namun belum juga dikaruniai anak, masalah. Yang sudah dikaruniai anak — dan dikaruniai lagi dan lagi — juga merasa bermasalah.

Jadi, adakah manusia di muka bumi ini yang tidak bermasalah? Tidak, kan?

Kuncinya dalam menghadapi semua masalah itu adalah dengan berbaik sangka kepada Allah. Ya, sesederhana itu. Dan, insya Allah, yang muncul dalam hati kita adalah rasa syukur kepada-Nya.

Allah selalu memiliki maksud di balik semua yang Ia tetapkan. Dan, apa yang kemudian kita kenal dengan kata ‘hikmah‘ di balik masalah biasanya memang baru kita dapati setelah semua berlalu. Namun, cobalah menerka sedari sekarang.

Ini bukan contoh dari Ustadzah, tapi saya coba mencarikan saja contoh yang bisa saya olah di kepala — jadi maaf jika agak aneh atau konyol hehe. Misalkan, kita menikah dengan suami yang — maaf — kurang tampan, tapi coba bayangkan jika kita — yang ternyata pencemburu berat — menikah dengan pria tampan yang digila-gilai banyak perempuan, wah…sepertinya masalah yang kita hadapi akan lebih besar lagi ya? ;)

Jika katakanlah ada do’a-do’a kita yang belum diijabah oleh-Nya, itu karena Allah lah yang paling tahu apa yang terbaik bagi kita. Namun, salah satu cara agar Allah mengabulkan do’a kita adalah dengan berbaik sangka kepada-Nya. Bahwa, jika memang do’a kita berakibat baik bagi dunia dan akhirat kita, Ia akan mengabulkannya.

Hidup akan terasa sangat nikmat jika kita bisa terus berbaik sangka kepada Sang Pencipta.

—————————————————————-

Berbaik Sangka kepada hamba-hamba Allah SWT

Pernahkah kita melihat seseorang dan menetapkan sebuah sangkaan yang kurang baik? Misalkan karena ia berbaju kumal, kotor, dan nampak hina? Astaghfirullah, nampaknya pernah ya?

Dan, pada pengajian pagi tadi Ustadzah mengangkat kisah Uwais al-Qarni. Pernah mendengar kan? Itu lho, yang dikisahkan sangat memuliakan ibunya. Tapi, tadi Ustadzah mengisahkan hal lainnnya tentang Uwais. Di antaranya adalah saat ia dalam perjalanan menuju Madinah bersama yang lainnya di atas sebuah kapal / perahu dari Yaman.

Di dalam kapal itu seorang kaya mengaku kehilangan barang berharga. Dicari ke mana-mana tak juga diketemukan. Semua menyangka Uwais yang saat itu sedang dengan khusyuknya sholat sebagai pelakunya, bahwa Uwais hanya berpura-pura sholat agar tidak dituduh.

Semua menunggu, namun Uwais tak kunjung selesai beribadah. Mereka semakin menyangka yang buruk kepada Uwais. Dan, tiba-tiba kapal itu pun terhempas ombak dan hancur berkeping-keping. Namun, Uwais seperti tidak menyadari keadaan di sekelilingnya dan ia tetap sholat. Ruhnya telah menang dari jasadnya. Ruhnya yang sedang bertemu dengan Allah SWT.

Semua yang telah berburuk sangka kepadanya hampir tenggelam dan berusaha berpegangan pada kayu-kayu sisa kapal. Dan, mereka pun menyadari.

“Wah, mungkin kita tadi tidak semestinya berburuk sangka kepada orang itu. Ternyata ia adalah Waliyullah.”

Lalu, Uwais selesai melaksanakan sholatnya dan terkejut melihat sekeliling.

“Loh, mana kapalnya?” tanyanya bingung.

Orang-orang itu pun menjelaskan seakan Uwais tadi tidak sedang berada di dalam kapal yang sama dengan mereka.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, dan orang-orang itu memohon pertolongan, Uwais pun berdo’a kepada Allah untuk keselamatan orang-orang tersebut.

Dan, sudah barang tentu do’anya dikabulkan. Karena, Nabi Muhammad SAW pernah berkisah kepada para sahabat tentang Uwais — padahal Nabi Muhammad SAW tak pernah bertemu dengannya. Menurut Baginda Rasul, Uwais adalah orang yang jika berdo’a Allah saja akan merasa malu jika tidak mengabulkannya.

Lalu, setelah selamat orang-orang itu berkata, “Andai semua harta kami yang tenggelam bersama kapal itu dapat diselamatkan, kami akan bersedekah dengan semua harta kami tersebut.”

“Kalian berjanji?” tanya Uwais.

“Kami berjanji.”

Maka Uwais pun berdoa sekali lagi, dan Allah mengabulkannya. Semua harta itu selamat.

Lalu, orang-orang itu bertanya kepada Uwais, “Siapa kau sebenarnya?”

“Uwais al-Qarni,” jawabnya sambil melenggang santai.

Bagaimana Uwais bisa begitu dicintai oleh Allah? Ketahuilah, bahwa saat mengisahkan kepada para sahabat, beliau menggambarkan bahwa Uwais berpakaian kumal, berdebu, dianggap tidak penting. Namun, Uwais ini begitu mencintai Allah dan umat mukmin.

Ia tidak punya apa-apa. Namun, jika ia memiliki sesuatu, yang ia pikirkan bukanlah dirinya. Melainkan orang-orang papa di sekitarnya.

Pernah suatu kali ia memohon maaf kepada Allah, “Ya Allah, maafkan Uwais karena hari ini Uwais tidak bisa membantu orang. Kalau ada orang mukmin yang tidak bisa makan karena Uwais tidak bisa membantu, maafkanlah Uwais ya Allah.”

Selain itu, pernah Uwais menderita penyakit belang pada kulitnya. Ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, jika nanti aku sembuh, tolong sisakan sedikit penyakit ini agar aku selalu bisa ingat bahwa Engkau pernah memberiku kesembuhan.”

Dan, memang tersisa sedikit penyakit itu di bahunya.

Apakah makna kisah Uwais ini?

Jangan pernah kita melihat orang dari luarnya saja. Terlebih jika kita melihatnya dengan tatapan hina ataupun sangkaan yang buruk. Karena, kita tidak pernah mengetahui hakikat orang tersebut. Karena, bisa saja orang yang kita anggap hina justru jauh lebih baik di mata Allah ketimbang kita sendiri.

Seperti apa yang Habib Abdullah bin Abubakar Alaydrus ajarkan kepada anaknya setelah anaknya itu baligh. Ia meminta sang anak mencari yang si anak lebih baik daripada orang tersebut di luar sana. Apa saja, siapa saja.

Anak itu pun pergi, mencari yang dimaksud sang ayah. Ia pikir, banyak orang yang ia lebih baik daripada orang itu — seperti pikiran kita sering kali kan seperti itu, merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Ia mendapat ide untuk mencari di tempat maksiat, dan menemukan seorang yang sedang mabuk. Ia pun membawa orang itu bersamanya sambil berpikir, ia mabuk saya tidak, saya lebih baik daripada orang ini. Tapi, kemudian ia berpikir lagi. Jika orang ini kemudian tobat dan tidak mabuk-mabukan lagi, orang ini tinggi derajatnya di sisi Allah. Allah mencintai hamba-hambanya yang bertobat. Si anak pun menyadari bahwa mungkin belum tentu ia lebih baik daripada orang itu.

Lalu, ia mencari lagi. Dan, ia melihat seekor anjing. Dan, ia pun merasa menemukan yang ia cari. Walau bagaimanapun ia adalah manusia dan si anjing hanyalah binatang. Saat membawa anjing itu pulang, ia teringat salah satu ayat yang menyatakan bahwa setelah hari akhir orang-orang yang kafir berteriak andai mereka menjadi tanah. Mengapa mereka berteriak begitu? Ternyata, hewan-hewan setelah dihisab di akhirat, mereka menjadi tanah. Mereka berteriak begitu karena mereka berandai jika mereka tak perlu menjadi manusia.

Si anak berpikir lagi, bagaimana jika nanti di akhirat aku tidak dapat melewati shirotol mustaqim, maka aku tidak lebih baik dari anjing ini.

Maka, ia pun pulang dan mengatakan kepada sang ayah bahwa tak ada orang di muka bumi yang lebih baik daripadanya.

Sang ayah pun berkata, “Sekarang, Nak, kamu telah menjadi orang dewasa.”

Sudahkah kita menjadi orang dewasa juga?

—————————————————————-

Demikianlah kira-kira apa yang tadi dapat aku tangkap dari pengajian Ustadzah Halimah kali ini. Semoga apa yang aku sarikan di sini dapat membawa manfaat baik bagi aku pribadi maupun bagi teman-teman yang membaca. Amin. Jika ada kesalahan, itu semata datang dari aku, karena keterbatasanku dalam menyerap ilmu. Mohon dibukakan pintu maaf.

[Foto oleh Owais Khan]

[Review] Pollyanna Pollyanna by Eleanor H. Porter

Pollyanna Pollyanna by Eleanor H. Porter

My rating: 4 of 5 stars

Sebuah buku yang sederhana, namun mengajarkan banyak hal. Selain membacanya sendiri, aku juga membacakan beberapa bab di antaranya untuk anakku, Hana. Ia sangat menyukainya. Bahkan, terkadang, anakku yang belum lama ini bisa membaca itu menelusuri kata per kata dalam buku ini sendiri.

Thank you, Rini…it’s a great birthday gift. A really great one.

Simakk review-ku yang lain.

33 – Usia Ganda Lagi

Alhamdulillah, hingga hari ini aku masih diberikan karunia untuk menikmati usia ganda sekali lagi. Usia ganda pertama 11, aku tidak terlalu ingat bagaimana ceritanya. Usia ganda kedua 22, aku masih kuliah. Aku dan teman-teman kuliah cukup heboh dengan usia ganda kami saat itu.

Sekarang, 33. Usia ganda yang jauh lebih matang daripada dua usia ganda sebelumnya. Dan, alhamdulillah, semalam aku berkesempatan mengajak makan malam Mama dan Papa sebelum kami menjenguk saudara sepupuku yang baru saja melahirkan.

Hal yang sudah cukup lama tidak kami lakukan, makan di luar bersama. Mudah-mudahan di lain waktu masih bisa melakukannya lagi dan lagi. Masih bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Dan, mudah-mudahan lain waktu adikku yang kecil dan suamiku juga bisa ikut. Kebetulan semalam keduanya berhalangan. Mudah-mudahan akan masih ada usia ganda lainnya untukku. Amin.

bday

mama-aku

papa-hana

mama-hana

the-couple

my-baby

menjenguk-bayi