güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Pancake Bantet

Selaluuuuu begitu. Pertama kali coba resep, sukses. Kedua kali, gagal. Contohnya pancake bantet ini.

Kalau rasa, masih sama lah dengan percobaan pertama membuat pancake. Tapi bentuk dan tekstur: Gagal! Jadilah pancake bantet dengan rasa nendang!

Selamat menikmati, Abi & Hana! :D

Konflik

Pada dasarnya, saya tipe orang yang malas jika harus berkonflik. Saya lebih suka diam dan menjalani atau mengacuhkan saja. Selama masih kuat, selama kesabaran masih banyak tersisa.

Tapi, tak jarang saya terpaksa mengungkapkan sesuatu yang mungkin dapat memicu konflik. Saya tidak suka. Tapi harus dilakukan. Tidak bisa saya acuhkan begitu saja.

Kalau sudah begitu, perut saya terasa sakit. Tapi, kalau tidak saya ungkapkan, dada saya terasa sesak. Simalakama banget nggak, sih!

Saya sadar, hidup ini tidak sendiri. Mau tidak mau saya harus berinteraksi. Meskipun interaksi itu sendiri kerap berurusan dengan hal-hal yang dapat memicu konflik.

Semoga saya kuat menahan diri dan memiliki stok kesabaran sebanyak mungkin, agar tidak perlu berkonflik dengan siapapun. Aamiin.

Ibu

Buat Mama…I love you so much.

Terima kasih untuk selalu meraih tangan Nad jika Nad jatuh.

Foto: oleh Quynhyen (Vietnam)

Kalah Lagi

Ah, kali ini masih harus kalah lagi. Padahal Garuda Muda menurut hemat saya sudah bermain dengan baik.

Memang, saya dan si Abi melihat Wanggai dan Diego tidak bermain seindah sebelumnya. Tapi, melihat permainan tim, sebenarnya kita ‘menang.’

Namun yang menyesakkan adalah lagi-lagi dikalahkan di kandang sendiri. Oleh lawan yang sama. Padahal kita sudah memberikan tim yang berbeda, dengan kualitas mental yang lebih baik (menurut saya).

Walau begitu, saya tidak sempat menghibur diri sendiri. Karena, segera setelah bola terlepas dari tangan Kurnia Mega, Hana, anak semata wayang saya, menangis tersedu-sedu.

Tangisan yang tidak sebentar. Hampir satu jam ia menangis karenanya. Ia baru berhenti menangis setelah kelelahan dan mengantuk, saat mulai terlelap di tempat tidur.

Ah, memang. Lagi-lagi yang tersisa adalah tangis. Semoga bukan hanya tangis. Melainkan ada harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, persepakbolaan Indonesia dapat memberikan predikat juara. Semoga semua dapat dibenahi. Semoga segalanya akan membaik.

Foto dari blog Andriyarusman.com.

Urusan Rumah Tangga

Sebenarnya, kalau waktunya ada, nggak ada tuh cerita urusan rumah tangga terbengkalai. Tapi, masalahnya, waktunya memang nggak cukup. Padahal sekarang ini aku cuma megang 2 kerjaan. Di batik dan di buku (dua-duanya bisnis online).

Dan, ada lagi satu faktor pendukung lainnya kenapa urusan rumah tangga kerap terbengkalai. Tidak dibiasakan sejak kecil.

Sedari lahir sampai hendak menikah, aku tinggal dengan Kakek-Nenek. Kebetulan mereka memiliki beberapa asisten rumah tangga yang bisa diamanahkan untuk mengurus rumah. Itu termasuk urusan kamarku. Jadi memang kadang pulang sekolah atau kuliah dulu itu, jreng…tau-tau kamarku sudah rapi jali!

Nah, saat menikah pun, setelah pindah rumah, aku mendapat bantuan dari asisten rumah tangga. Begitu juga saat kembali ke rumah Nenek dulu.

Tapi sekarang, di rumah kontrakan ini, semua harus dikerjakan sendiri. Beruntung suamiku mau berbagi tugas. Tapi ya tetap saja kadang ada yang terbengkalai.

Masalah tidak terbiasa sejak kecil ini cukup mengganggu pikiranku. Sedikit demi sedikit, aku mencoba memberi tanggung jawab kepada Hana. Tapi kelemahanku adalah jika tidak dikerjakan oleh Hana, aku gemas dan mengerjakannya sendiri. Salah ya?

Aku punya seorang teman yang sejak kecil sudah diberikan tanggung jawab mengurus rumah tangga oleh orang tuanya. Mulai dari membersihkan rumah sampai memasak! Aku salut kepadanya dan kepada orang tuanya.

Memang sudah semestinya anak diajarkan untuk turut membantu di rumah, agar nanti setelah dewasa, ia sudah terbiasa. Ia akan melakukannya dengan otomatis dan riang.

Sekarang sih, kalau memang waktunya ada, aku senang-senang saja melakukan semua. Bersih-bersih, memasak, semua sebenarnya menyenangkan. Apalagi memasak. Tapi ya itu, waktunya nggak cukup sih (bukan lagi ngarang alasan lho… ^____^ )