Perburuan Rumah 4

rumah pohonHari ini, akhirnya kesempatan cari-cari rumah kembali tersedia. Kebetulan aku dan suami tidak ada kerjaan mendesak dan cuaca pun mendukung (baca: gak hujan). Kali ini masih di seputaran Menteng Dalam.

Aku ke rumah temannya teman yang menjanjikan bersedia mengantar. Ada 3 rumah yang ditawarkan.

Pertama, rumah pink (catnya pink booo). Luas tanahnya cuma 40-an something, tapi 2 lantai. Bentuk rumahnya cukup aneh, tapi masih ok lah. Gangnya gang becak. Tetangganya kayaknya lumayan enak. Pemandangan di lantai 2-nya ok. Kamar cuma 1, tapi di atas bisa disekat buat 2 kamar lagi. Cuma bingung juga posisi kamar pembantu di sebelah mana.

Kedua, rumah ungu (catnya ada unsur ungunya). Luas tanah 70-an. 2 lantai juga. Bentuknya lebih aneh dari yang pertama hahaha! Jalannya jalan motor, tapi dari jalan raya cuma 10 meter-an, dan gang buntu. Trus, ada pintu gerbang yang bisa ditutup kalo malam. Tapi, dari sisi harga kayaknya yang ini agak berat, apalagi tadi lagi di-renovasi.

tempat duduk dudukSelain bentuknya yang aneh, kedua rumah ini punya kesamaan lain: tangganya serem, pemiliknya sama, suratnya sama-sama bukan SHM/HGB/AJB — cuma surat kelurahan yang artinya gak bisa dibeli dengan cara KPR! Huhuhu…

Ketiga, rumah ketiga aja (bingung mau dikasih nama apa, gak ada yang spesifik). Harga terlalu tinggi. Kata yang nganterin tadi, lantai 2-nya masih papan dan sudah gonjret. Aku dan suami kurang sreg.

Terus, sekalian pulang, kami mampir ke tanah yang katanya mau dijual. Ternyata sudah dibeli 3 tahun lalu dengan harga yang cukup tinggi. Jadi, kayaknya nggak mungkin juga dijual lagi dengan harga di bawahnya (ya iyalah!). Hiks!

Entah besok bisa nyari-nyari lagi atau nggak. So far, I just won’t give up.

Foto pertama di kanan atas oleh: Patrick Hajzler

Foto kedua di kiri oleh: Ali Farid

Quick Update

Minggu ini cukup melelahkan. Begitu banyak target yang harus dicapai. Tapi, minggu ini juga cukup menyenangkan. Keluar rumah 2 kali.

Sayang, masalah perburuan rumah jadi terabaikan. Saat aku dan suami ada waktu, mendung menggelayut dan mengantarkan hujan. Karena kami naik motor, maka  rencana keliling cari rumah harus tertunda.

Kembali ke masalah keluar rumah, aku menargetkan untuk keluar rumah minimal satu kali dalam seminggu mulai minggu depan. Aku butuh suasana yang berbeda.

Setiap hari kerja di kamar ternyata bikin butek juga :D . I need some fun!

Perburuan Rumah 3

rumah mungilHari ini, aku dan suami kembali berputar-putar mencari rumah di sekitar Menteng Dalam, Tebet. Hasilnya: 2 rumah dan sebidang tanah.

Rumah pertama, kami kurang sreg. Karena, letaknya jauh sekali ke dalam gang. Kami sih tak apa jika di dalam gang, tapi maunya ya tidak lebih dari 30 meter ke dalam. Apalagi, tadi kami tidak bisa melihat ke dalam rumah.

Rumah kedua, sejujurnya aku cukup sreg. Lingkungannya enak, dan dari jalan raya kurang dari 20 meter — di dalam gang juga. Rumahnya juga terbilang nyaman. Suratnya pun SHM (Sertifikat Hak Milik). Dan, si pemilik pun terbuka untuk KPR — ada seorang pemilik rumah lainnya yang tidak mau dibeli dengan cara KPR, entah kenapa, mungkin takut lama ya prosesnya?

Nah, yang seru tanah nih. Lokasinya agak di pojok dan jalannya masuk mobil. Aku dan suami sreg banget! Hanya saja, tidak jelas apakah tanah itu dijual atau tidak. Kalau sampai dijual, kami naksir sekali.

Insya Allah perburuan rumah 4 akan kami lanjutkan hari Senin mendatang. Karena, ada seorang kawan yang memberi info tentang dua rumah lainnya yang akan dijual.

Sungguh seru. Tapi, agak menyesakkan. Karena, sepanjang jalan tadi, aku melihat beberapa rumah yang terabaikan, terbengkalai, dibiarkan hancur begitu saja. Entah ke mana pemiliknya. Padahal, di luar sana banyak sekali orang yang sedang mencari rumah.

Mudah-mudahan kami dapat menemukan rumah idaman sebelum harus hengkang dari rumah yang kami tempati sekarang. Amin.

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter

Pagi yang cerah. Aku terbangun saat adzan Subuh dikumandangkan oleh Pak Slamet, penjaga Masjid dekat rumahku. Suara Pak Slamet merdu sekali. Aku pernah nekat menanyakan kepada pria tua itu apakah dulu ia pernah berprofesi sebagai penyanyi. Dan, jawaban Pak Slamet sungguh dapat diduga: ‘Tidak pernah, Neng.’

Tapi, itu tidak penting. Yang penting adalah segera mandi, sholat Subuh, lalu sarapan, membereskan kamar dan…bersiap-siap ke rumah Dokter Bagas.

Tapi, rasanya aneh juga. Biasanya ke mana-mana aku naik sepeda. Dan, sekarang, aku harus berjalan kaki.

Aku keluar rumah sekitar jam setengah delapan pagi. Perkiraanku, aku akan sampai jam delapan kurang sepuluh menit—padahal kalau naik sepeda aku bisa sampai di sana jauh lebih cepat.

Hari Minggu Puskesmas tutup, tapi kalau ada yang butuh pertolongan, pintu rumah Dokter Bagas selalu terbuka lebar. Kadang, ada saja warga yang datang ke rumah dinas dokter—walau hanya untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.

Tapi, pagi ini, rumah itu lengang. Pintunya masih tertutup rapat. Hm…sudah bangun atau belum ya, si Dokter?

Kuketuk pintu rumahnya sambil mengintip melalui jendela. Sepi. Kuketuk lagi.

Kali ini, sambil memanggil namanya, “Dokter…Dokter Bagass…Assalamu’alaikum…”

Tidak dijawab. Duh, pasti belum bangun. Huh! Dokter kok bangunnya siang sih?!

Akhirnya, kuputuskan untuk melongok ke belakang rumahnya. Mungkin pintu belakang dibuka. Mungkin ia sedang mencuci, memasak atau apa.

Kakiku melangkah di antara pot-pot berisi bunga mawar kesayangan Dokter Putri yang sekarang diurus Pak Danu yang tinggal di sebelah rumah dinas Dokter. Entah Dokter Bagas berniat merawat mawar-mawar itu atau membiarkan Pak Danu terus menyirami, memupuk dan merapikannya.

Ternyata, di belakang rumah pun tak ada siapa-siapa.

Haruskah kuketuk pintu belakang ini? Tapi, kok rasanya kurang sopan ya? Ah, lebih baik tidak. Lebih baik aku pulang. Kalaupun Dokter Bagas mau mengembalikan sepedaku, ia bisa ke rumah.

Tepat saat aku membalikkan badan, aku dikejutkan oleh sebuah suara lantang, “Dor!”

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Kurang dari 1 jam menuju tahun 2010

Tahun Masehi yang baru…

Saat pergantian tahun Hijriah beberapa hari yang lalu, aku sudah menggantungkan 2 cita-cita besar. Tapi, justru di saat pergantian tahun Masehi ini, ada bimbang di hati sehubungan dengan salah satu cita-cita tersebut.

Apakah itu sebuah keputusan yang benar? Belum lagi aku dihantui oleh sekelumit permasalahan yang mungkin akan timbul.

Hm…entahlah.

Jadi ingat tahun-tahun sebelum ini, aku sempat takut bercita-cita. Akankah tahun ini aku kembali merasakan takut itu?

Lagi-lagi…entahlah…