Tertawa

Sudah beberapa hari ini, saya selalu tertawa sebelum tidur. Meski sebelumnya ada kejadian menyebalkan, sayatetap tertawa.

Dan, rasanya sangat menyenangkan! Ya iyalah, ketawa gitu loch!

Tidak bisa kita pungkiri, tertawa mengandung banyak manfaat. Menurut beberapa sumber, tertawa memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengurangi kadar hormon stres, plus membuat jantung dan sistem peredaran darah lebih sehat, serta otot menjadi lebih rileks.

Apa sih yang membuat saya tertawa?

Saya sangat suka menonton sitcom, komedi situasi. Beberapa yang paling saya sukai adalah Friends, The Cosby Show, Growing Pains, Dharma and Greg, dan banyak lagi.

Nah, yang membuat saya beberapa hari ini tertawa-tawa adalah Dharma and Greg. Dharma yang polos dan Greg yang ganteng plus orang tua dan teman-teman keduanya yang cukup sangat aneh menciptakan situasi-situasi yang berhasil memancing tawa.

Dan, saya merasa lebih santai. Somehow, bahkan saya bisa melupakan kekesalan, kelelahan, dan masalah saya.

Jadi, sepertinya, acara menonton sitcom ini akan terus berlanjut.

Oh ya, saya menontonnya di YouTube. Di bawah ini adalah episode yang sedang saya tonton:

Enjoy it! Dan, selamat tertawa!

PS: yup, lagi ber-saya ria nih.

Tanpanya…

Sudah hampir sebulan ini kami tidak dibantu oleh asisten yang menginap — kami di sini maksudku adalah aku dan Mama. Karena, biasanya kami dibantu oleh masing-masing asisten. Walau begitu, ada kerabat yang dengan baik hati membantu kami — sepasang suami istri.

Capek memang. Tapi, paling tidak, kami tidak perlu stres menghadapi serangkaian keanehan yang dulu biasa kami dapati dalam sikap, sifat, dan pekerjaan para asisten.

Oh ya, mereka sendiri lah yang memutuskan untuk berhenti. Jadi, kami tidak memberhentikan mereka. Seaneh apapun kekacauan yang mereka timbulkan, Mama berpesan untuk tidak memberhentikan asisten.

Padahal, menurutku pribadi, itu adalah jalan yang terbaik baik bagiku ataupun si asisten. Ibarat orang pacaran, kami sudah tidak ada kecocokan. Tapi, syukurlah, pada akhirnya mereka sendiri yang pergi.

Dari sekian hal yang selama ini dikerjakan oleh asisten, ada satu yang sama sekali aku tidak suka. Jadi, tak ada mereka pun aku memilih untuk mencari cara lain untuk tidak melakukannya. Menyetrika.

Memasak akusetrika suka, tapi daripada tidak dimakan karena rasanya aneh, aku serahkan kepada Mama saja pekerjaan satu ini. Mencuci masih oke walaupun pada akhirnya kakiku pecah-pecah. Mencuci piring pun masih okelah.

Hanya satu itu, menyetrika, yang aku paling tidak suka.

TTapi, di luar semua itu, sepertinya semua masih terkendali. Walaupun yang mengesalkan adalah di dalam rumah, ada orang yang memakai sandal yang digunakan di luar rumah. Hiks. Tapi, ya sudahlah. Pasrah saja. Kalau nggak capek, ya dipel lagi dan lagi. Kalau capek, ya biarkan saja.

Kemarin seorang temanku bertanya, “Capek ya bersih-bersihnya?”

“Siapa bilang gue bersih-bersih?”

*Wink2*

Jadi ya semua kembali ke mood dan energi aja. Kalau mood lagi bagus dan energi masih ada yang tersisa ya kerja. Kalau nggak ya dibawa santai aja.

Dan, hikmah terbesar dari tidak memiliki asisten adalah berkurangnya kesempatan untuk berbuat dosa. Gimana nggak? Namanya manusia ya, bisa dong kelepasan emosinya. Jadi, somehow, tanpanya justru lebih baik. ;)

Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

Recipes for a Perfect Marriage (Resep Perkawinan Sempurna) Recipes for a Perfect Marriage by Kate Kerrigan

My rating: 5 of 5 stars
Tak ada pernikahan yang mudah. Yang ada adalah dua orang yang berusaha membuatnya menjadi mudah.

Mungkin bukan itu yang ingin didengar oleh pasangan yang baru saja saling mengikat janji. Tapi, memang begitulah adanya.

Dan, buku ini menggambarkannya dengan sangat baik. Diolah dalam bentuk novel, padahal sesungguhnya begitu banyak pemikiran, nasihat, atau tips yang bisa dicatat oleh pembaca mengenai pernikahan. Namun, alih-alih merasa digurui, pembaca justru diajak tersenyum atau menghela nafas saat terdapat kemiripan pengalaman dengan kedua tokoh utama, Bernadine dan Tressa — terutama pembaca yang berstatus istri.

Namun, buku ini bukan semata mengangkat resep-resep menuju perkawinan sempurna. Tak sedikit pula pembahasan mengenai kehidupan. Seperti pada salah satu kutipan yang kupaling sukai:

“Hidup ini kadang-kadang keras, tapi kita membuatnya jadi lebih keras lagi melalui cara pandang kita.”

Dan, terdapat banyak kalimat-kalimat lainnya yang membuat pembaca berpikir, tersenyum, atau merasa terenyuh.

Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang berpredikat istri. Baik yang sedang berusaha membangkitkan lagi cinta dalam perkawinan mereka ataupun yang pasrah akan ada atau tidaknya cinta dalam perkawinan mereka. Karena, sesungguhnya, ada banyak hal lain dalam sebuah perkawinan selain cinta yang pada akhirnya justru menumbuhkan bentuk cinta yang sesungguhnya dalam perkawinan.

View all my reviews >>

[cerbung - DOKTER IMPIAN] 5. Perasaan Si Pengantuk

SEBELUMNYA: [cerbung - DOKTER IMPIAN] 4. Setengah Hari Bersama Sang Dokter


jatuh cinta

“Gadis! Bangun!”

Terdengar suara Ibu yang lantang di telingaku.

Huhuhu…Ibu…tega sekali sih. Aku kan sedang istrahat.

“Kamu itu ya…sekarang sering sekali tidur siang di mana-mana. Di kamar mandi, di kursi depan, di ruang tamu…kenapa sih? Sakit?”

O-ow…Ibu kalau sudah cas-cis-cus begitu, itu tandanya aku memang sudah keterlualuan. Jadi ingat kemarin, waktu aku tertidur saat mengerjakan LKS Matematika. Akhirnya, aku dipanggil Pak Bambang, sang guru, ke depan.

“Kamu kenapa sampai tidur di kelas begitu?” tanya Pak Bambang dengan lembut—ya, beliau memang sangat lembut dan penyayang, seperti Bu Halimah, guru Biologiku.

“Maaf, Pak…kemarin saya belajar sampai malam sekali. Jadi agak ngantuk.”

“Ya sudah, jangan kamu ulangi ya? Kamu kan selalu jadi juara kelas. Pertahankan ya. Tapi, jangan sampai mengganggu kesehatanmu.”

“Baik, Pak. Terima kasih, Pak.”

Aku maluuuuuuuuuu sekali. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku memang ngantuk!

Klik untuk melanjutkan membaca ya »

Malam Pertama…

malam-pertamaHehe…bukan malam pertama itu. Tapi, ini malam pertama setelah sekian lama tak ada kerjaan tambahan. Biasanya, di luar pekerjaan utama di http://kainikat.com/ dan http://batikindonesia.com/, aku mengambil pekerjaan menerjemahkan buku dan menulis skrip.

Nah, semua sudah disetor, sudah selesai — alhamdulillah, jadi malam ini free. Horeee!!!

Oops. Bukannya happy atau gimana. Tapi, menangani 2 – 3 pekerjaan pada satu waktu cukup bikin stres juga. Pikiran dan tenaga harus dibagi dengan tepat. Jangan sampai ada yang dikorbankan — walaupun praktiknya gak gampang juga.

Dan, sekarang mau ngapain dong, setelah semua selesai?

Kayaknya, aku mau lebih sering nge-blog dan menulis fiksi. Sudah saatnya melakukan hal lain yang memang menjadi impian utama yang sampai sekarang belum 100% terwujud. Menerbitkan novel — kedua.

So, will you please excuse me, I gotta complete one story I started about…well, 9 months ago? ;)

[Picture by: Renate Kalloch]