• Home
  • English
  • Fiksi
  • RSS
  • About
  • Wejangan Diri
Blue Orange Green Pink Purple

Menerima dengan Ikhlas

Mungkin tidak mudah, tapi harus diusahakan.

Baru-baru ini, saya melewati masa yang begitu menyesakkan. Seakan perjuangan selama ini sia-sia belaka.

Sedih, kecewa, terkejut. Semua bercampur aduk di dalam hati saya.

Read More 2 Comments   |   Posted by Nadiah Alwi
Aug 02

Mengubah Doa agar Diijabah

Ada sesuatu yang telah bertahun-tahun kupintakan kepada-Nya. Namun tak kunjung dikabulkan. Lalu, apakah aku harus berhenti berdoa?

Dalam beberapa tausiah-nya, Ustadzah Halimah Alaydrus menyarankan agar kita terus berdoa meskipun doa kita tak kunjung dijawab oleh-Nya karena Allah pasti menyimpan hikmah di balik itu. Beliau pun mencontohkan beberapa kisah tentang doa yang pada akhirnya diijabah oleh-Nya karena sang pendoa istiqomah dengan doanya.

Tapi ya namanya manusia. Kadang aku sempat juga berada di titik jenuh (padahal sebetulnya nggak boleh lho). Namun kemudian, aku kembali mengingat kisah yang diajarkan oleh Ustadzahku itu.

Kini, di bulan Ramadhan ini, aku kembali berdoa, meminta hal yang sama kepada-Nya. Namun, ada yang berbeda.

Aku sedikit mengubah doa yang kupanjatkan. Tujuan akhirnya sama. Namun cara menyampaikannya dan permintaannya aku ganti. Jika dulu aku meminta A, kini aku meminta B, yang pada akhirnya bisa mewujudkan A.

Untuk doa A, aku mendapati adanya emosi di sana, adanya keangkuhan. Ya, aku memintanya karena emosi, dengan sekelibat kesombongan yang awalnya tak kusadari. Namun untuk doa B, aku memintanya dengan segala kepasrahan yang ada. Sepenuhnya meminta-Nya agar Ia memberikan belas kasih-Nya.

Semoga dengan diubahnya doaku, di bulan yang penuh rahmat ini, Allah akan mengabulkan doaku. Semoga Allah mengijabah doa-doa kita semua. Amin.

Oh ya, ini ada artikel menarik tentang doa: http://www.kisahinspiratif.com/10-alasan-baik-mengapa-kita-perlu-berdoa-dengan-tekun.html

Sumber gambar: http://4syifa.wordpress.com/sendiri-dalam-sunyi/

Read More 0 Comments   |   Posted by Nadiah Alwi
Aug 01

Para Pencari Tuhan 5 (PPT 5)

Semenjak sahur tadi pagi, kami sudah menikmati tayangan perdana Para Pencari Tuhan 5 (PPT 5). Kebetulan saya dan keluarga memang sangat menyukai sinetron religi satu ini. Setiap Ramadhan menjelang, acara ini adalah satu di antara sekian banyak keindahan bulan penuh rahmat yang kami nantikan.

Sinetron ini sarat dengan makna. Terkadang menyentil, meskipun kerap menimbulkan tawa. Mampu menguras air mata, juga tak jarang memunculkan senyum penuh arti.

Itulah perbedaan Para Pencari Tuhan (PPT) dengan serangkaian sinetron religi lainnya di bulan Ramadhan, juga di bulan-bulan lainnya yang kini semakin marak.

Para Pencari Tuhan 5 (PPT 5) sepertinya akan banyak menyoroti kehidupan rumah tangga (CMIIW, Mas Wahyu H.S.). Mengapa saya berkesimpulan begitu?

Konflik yang membuka sinetron di hari pertama puasa ini mengangkat:

  • Niat istri Bang Udin, Herlina, yang meminta cerai karena sudah bosan hidup dengan suaminya yang HanSip itu. Menurut Bang Udin, saat bercerita kepada Bang Asrul, bukan uang masalahnya.
  • Niat Emak si Juki yang juga hendak meminta cerai akibat sang suami kerjanya hanya bermain karambol. Katanya, “Istri juga punya hak untuk dinafkahi. Gue kasih waktu satu bulan. Kalau nggak berubah juga, gue balik lagi jadi single parent.” Ternyata, uanglah yang menjadi masalahnya.
  • Aya yang kedatangan sang mertua, ibu Azzam yang sepertinya tipe mertua yang ehem…kurang berhati lapang.
  • Istri Pak Jalal yang tidak setuju suaminya menanam cabai di tanah pemilik rumah yang mereka tempati tanpa adanya izin.

Apakah kisah yang dijalani oleh tokoh-tokoh tersebut merupakan gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat yang marak terjadi sehingga berdasarkan pengamatan sang penulis skenario layak diangkat ke layar kaca? Bisa jadi.

Lalu, kira-kira bagaimana kah kelanjutannya? Apakah rumah tangga Ustadz Ferry dan Kak Haifa serta Bang Asrul dan Kak Mira juga akan diguncang masalah? Bagaimana dengan Bang Jack dan tiga anak didiknya? Bagaimana dengan Kalila? Bagaimana dengan Pak RT and the gank? Apakah akan ada kisah kejutan lainnya?

Supaya tahu bagaimana kisah mereka, kita ikuti saja episode-episode selanjutnya. Yuk!

Sumber foto: Dinendra’s Blog

Read More 5 Comments   |   Posted by Nadiah Alwi
Jul 28

Siapa Bilang Diet Itu Menyiksa?

diet

Siapa bilang diet itu nggak bisa makan enak?

Diet, yup, aku sedang menjalani diet. Ketat? Hm…nggak juga. Aku dan temanku menyebutnya Diet Happy. Kok bisa gitu? Iya, dia bilang, “Tipe orang kayak elo, kalo diet kudu happy, kalo nggak pasti berhenti deh. Ya kan?”

Seratus!

Jadi, sama temenku yang memantau dietku itu, aku nggak dilarang makan ini-itu. Cuma diingatkan bahwa intake kaloriku per hari, kalo memang ingin berat badanku turun, harus di bawah 1.200. Atau ya harus berolahraga. Oh ya, angka 1.200 itu adalah angka kalori per hariku.

Maka aku melakukan kombinasi keduanya semampuku. Aku cenderung menghitung berapa kalori yang kumakan. Nggak susah, karena ada tabelnya. Atau bisa dilihat di bungkus makanannya.

Untuk olahraga, aku memilih jalan kaki atau exercise kecil di rumah sepulang mengantar anakku Hana ke sekolah.

Lalu, gimana dengan makan enaknya? Biasanya aku makan yang berbeda siang hari. Kalau siang, aku bebas makan apa aja. Nah, kalau pagi, kadang aku ganti dengan susu atau yang biasa disebut temanku itu dengan shake atau aku tetap makan sarapan biasa, hanya saja porsinya maksimal setengahnya. Makan malam? Sama dengan makan pagi. Terkadang aku minum susu alias shake itu, di lain waktu makan biasa dengan porsi yang lebih sedikit. Yang penting lidah tetap bisa merasakan ke-yummy-an makanan itu! ;)

So, walau diet, tetap bisa makan enak kan?

Bagaimana dengan hasilnya? Sepuluh hari pertama diet, aku bisa menurunkan berat badan hingga 1.6 kg dan mengecilkan perut hingga 2 cm. Nah, besok insya Allah mau nimbang lagi nih. Kita lihat aja gimana hasilnya. Kata suamiku sih aku agak ‘tipisan.’

Jiah! Martabak manis kali pake tipis. Hm…martabak manis?! *cegluk!*

Read More 0 Comments   |   Posted by Nadiah Alwi
Jul 15

Are you OK?

Kali ini, aku ingin membahas tentang persahabatan…lagi. Ya, lagi. Karena sebenarnya sudah pernah juga aku sedikit menyinggung tentang 2 sahabatku di sini.

sahabat

Tapi kali ini bukan membahas keduanya. Melainkan aku sedang merasa menyesal dengan diriku sendiri.

Jadi, beberapa bulan silam, salah seorang sahabatku yang lain sedang dirundung masalah. Aku sebenarnya sudah dapat merasakan ada yang salah dengannya. Tapi aku memilih untuk diam.

Kenapa?

Karena aku pikir permasalahan itu berada di wilayah yang sangat pribadi. Aku mencoba menelaah — saat itu — bahwa jika aku di posisinya, aku lebih suka ditanya atau tidak? Dan, kebetulan aku juga bukan tipe orang yang want-to-know-ajah! Kalau tidak diceritakan ya aku tidak akan menanyakan.

Kupikir, jika memang seseorang ingin berbagi, itu semestinya datang dari dirinya sendiri, keinginan sendiri. Bukan karena ditanya.

Tapi kemarin, memang tanpa ditanya, sahabatku menceritakan tentang masalahnya. Dan, menurutnya, ia sebenarnya memang sudah ingin bercerita sejak dulu. Tapi pertemuan-pertemuan kami memang tidak pernah berdua saja. Selalu ada teman lainnya. Sehingga sepertinya kesempatan untuk bercerita tidak pernah ada.

Kemarin, kami berpelukan dalam tangis. Jujur, aku merasa menjadi seorang teman yang payah karena tidak ada di sana saat ia harus melewati semua itu.

Kini ia sudah baik-baik saja. Semua sudah lewat dan ia sudah dapat tersenyum kembali. Tapi, hingga sore kemarin, pikiranku masih digelayuti oleh permasalahannya — yang telah lewat itu.

Muncul penyesalan. Really wish I had been there for my dear friend. Really wish I had asked, had been a ‘lil bit fussy, so that I could lend her my shoulders.

Aku juga bertanya kepada beberapa teman, apakah mereka lebih suka ditanya jika sedang ada masalah atau tidak. Menurut salah seorang temanku yang lain, ia lebih suka ditanya. “Showing that you care,” katanya. Benar juga.

Aku pun meminta maaf kepada sahabatku itu, for not being there for her. Dan, ia berkata, it’s ok, kalau lo tahu waktu itu, entar lo ikut stres lagi. Subhanallah. Ia saja masih memikirkan aku.

Kemarin sore, aku pun menghubungi seorang teman lainnya yang aku tahu sedang berada dalam masalah juga. Aku sekedar bertanya, “Are you ok?” Alhamdulillah dia secara keseluruhan ok. Tapi seusai saling bercakap-cakap di telepon, ia mengirimkan SMS, “Thank you for calling.”

Ya, aku belajar sesuatu kemarin. Bahwa tidak ada salahnya menangakan kabar, atau sekedar bertanya, “Are you ok?” Karena itulah gunanya sahabat. You simply ask the question. Kalau mereka memang ingin bercerita, jadilah pendengar yang baik. Jika tidak, jangan ganggu privacy mereka.

Semoga setelah pelajaran berharga kemarin, aku bisa lebih menyayangi sahabat-sahabatku, bisa berada di sana saat mereka membutuhkan. Dan semoga semua sahabatku baik-baik saja. Amin.

Read More 2 Comments   |   Posted by Nadiah Alwi
Jul 11

Sekedar Mencoba

milkshakeBerawal hari ini, 11 Juli 2011, dan direncanakan untuk berakhir tanggal 31 Juli 2011. Duapuluh hari. Cukup kah?

Semoga.

Tadi mencoba yang rasa coklat. Hm…kurang nendang rasa coklatnya. Tapi not bad.

Besok dan lusa akan mencoba 2 rasa lainnya.

Setelah itu memutuskan untuk setia kepada 1 rasa saja hingga tanggal 31 Juli nanti.

Good luck, Nad!

Read More 1 Comment   |   Posted by Nadiah Alwi
Previous Page 6 of 32 Next Page

Nadiah Alwi

  • About
    Seorang Perempuan yang Suka Menulis dan Hobi Ngeblog.
  • Kategori
    • Aktivitas
    • Bisnis Online
    • Blog
    • Blogging
    • Buku
    • Diet
    • Dunia Digital
    • Fiksi
      • CerBung – Dokter Impian
    • Hidup
    • Inspirasi
    • Islam
    • Kata
    • Keluarga
    • Kesehatan
    • Lomba
    • Makanan
    • Media Digital
    • Memasak
    • Pekerjaan
    • Penerjemahan
    • Penulisan
    • Perjalanan
    • Puisi
    • Rumah
    • Saya / Aku
    • Sekedar Cerita
    • Self Reminder
    • Teman
  • Artikel Terbaru
    • Menerima dengan Ikhlas
    • Cermin Kesedihan
    • Sudut Kerja di Rumah
    • Helaan Nafas
    • Doa sebelum Masak
    • Makanan Enak
  • Arsip
    • May 2012
    • April 2012
    • March 2012
    • February 2012
    • January 2012
    • December 2011
    • November 2011
    • October 2011
    • August 2011
    • July 2011
    • June 2011
    • May 2011
    • April 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • December 2010
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • September 2009
    • August 2009
    • June 2009
    • May 2009
    • April 2009
    • March 2009
    • February 2009
    • January 2009
  • Pengunjung
  • Cari





    Widget_logo
  • Home
  • About
  • Wejangan Diri

© Copyright Nadiah Alwi. All rights reserved.
Designed by FTL Wordpress Themes brought to you by Smashing Magazine

Back to Top