Perburuan Rumah 1
Posted in Rumah, Sekedar Cerita and tagged with Rumah on 12/25/2009 10:33 pm by Nadiah Alwi
Sebelum ini, aku berburu rumah kontrakan. Tapi, belakangan terinspirasi untuk berburu rumah yang dijual.
Bukan berarti dananya ada. Hahaha…ini sih sekedar nekad aja. Rencana mau KPR, jika memungkinkan. Masih dicek dulu juga persyaratannya sih.
Berhubung ada request dari Mama untuk tinggal tak jauh-jauh dari beliau, aku dan suami mencari rumah di sekitar Tebet (baca: pinggir-pinggirnya Tebet, karena kemungkinannya kok agak kecil ya kalau di Tebetnya? Mahal boo!).
Maka, awal minggu lalu, aku membuat janji dengan seorang makelar yang kutemukan secara online. Ternyata sang makelar menawarkan bukan hanya satu rumah, melainkan dua. Harusnya, tadi pagi aku melihat kedua rumah tersebut. Tapi, sang makelar salah tangkap, mengira janjian denganku sore hari. Maka, batal lah rencana itu.
Untung ada 1 rumah lagi yang aku incar. Kebetulan, aku kontak langsung dengan si pemilik rumah. Setelah menelepon si ibu, jadilah aku janjian untuk intip-intip rumah jam 11.
Menurut keluarga, ada kemungkinan rumah di daerah tersebut terkena banjir. Tapi, kata si pemilik tidak banjir.
Sebenarnya, aku sudah ragu juga sih. Tapi, penasaran. Eeehh…di jalan, helmku lepas. Jadilah suami lari-lari di Jl. MT. Haryono mengambil itu helm (trims, suamiku) — cerita nggak penting ya? Hehehe.
Dan, saat tiba di rumah itu, aku cukup impressed. Meski di gang dan bukan bangunan baru, tapi lumayan lah. Saat selesai lihat-lihat, suami memberi kode dengan menunjuk ke pintu pagar.
Lemas deh. Pagar kecil itu dibuat tinggi. Suami juga menunjuk ke rumah lainnya yang ditinggikan. Pertanda bahwa daerah itu adalah dareah banjir.
Aku pulang dengan harapan yang kembali menghampa dan sedikit rasa takut, jangan-jangan dua rumah lainnya itu juga bermasalah–karena harganya yang murah dan memang sepertinya sudah lama terdaftar di situs pengiklan rumah online di mana aku melihat info tentang rumah tersebut.
Tapi, insya Allah niatku baik. Jadi, tadi suami juga mengajak berpikiran positif bahwa kami nantinya akan menemukan rumah yang cocok yang pada akhirnya akan menjadi rizki kami.
Jadi, meski perburuan pertama tadi gagal, aku tidak patah semangat. Masih ada esok. Masih ada kesempatan lain.
Lagipula, kata orang, mencari rumah memang bukan perkara mudah.
Ditunggu ya kisah-kisahku yang lainnya dalam perburuan rumah idaman. Hehehe…
Sebelum ini, aku berburu rumah kontrakan. Tapi, belakangan terinspirasi untuk berburu rumah yang dijual.
Bukan berarti dananya ada. Hahaha…ini sih sekedar nekad aja. Rencana mau KPR, jika memungkinkan.
Berhubung ada request dari Mama untuk tinggal tak jauh-jauh dari beliau, aku dan suami mencari rumah di sekitar Tebet (baca: pinggir-pinggirnya Tebet, karena kemungkinannya kok agak kecil ya kalau di Tebetnya? Mahal boo!).
Maka, awal minggu lalu, aku membuat janji dengan seorang makelar yang kutemukan secara online. Ternyata sang makelar menawarkan bukan hanya satu rumah, melainkan dua. Harusnya, tadi pagi aku melihat kedua rumah tersebut. Tapi, sang makelar salah tangkap, mengira janjian denganku sore hari. Maka, batal lah rencana itu.
Untung ada 1 rumah lagi yang aku incar. Kebetulan, aku kontak langsung dengan si pemilik rumah. Setelah menelepon si ibu, jadilah aku janjian untuk intip-intip rumah jam 11.
Menurut keluarga, ada kemungkinan rumah di daerah tersebut terkena banjir. Tapi, kata si pemilik tidak banjir.
Sebenarnya, aku sudah ragu juga sih. Tapi, penasaran. Eeehh…di jalan, helmku lepas. Jadilah suami lari-lari di Jl. MT. Haryono mengambil itu helm (trims, suamiku).
Dan, saat tiba di rumah itu, aku cukup impressed. Meski bukan bangunan baru, tapi lumayan lah. Saat selesai lihat-lihat, suami memberi kode dengan menunjuk ke pintu pagar.
Lemas deh. Pagar kecil itu dibuat tinggi. Suami juga menunjuk ke rumah lainnya yang ditinggikan. Pertanda bahwa daerah itu adalah dareah banjir.
Aku pulang dengan harapan yang kembali menghampa dan sedikit rasa takut, jangan-jangan dua rumah lainnya itu juga bermasalah–karena harganya yang murah dan memang sepertinya sudah lama terdaftar di situs pengiklan rumah online di mana aku melihat info tentang rumah tersebut.
Tapi, insya Allah niatku baik. Jadi, tadi suami juga mengajak berpikiran positif bahwa kami nantinya akan menemukan rumah yang cocok yang pada akhirnya akan menjadi rizki kami.
Jadi, meski perburuan pertama tadi gagal, aku tidak patah semangat. Masih ada esok. Masih ada kesempatan lain.
Lagipula, kata orang, mencari rumah memang bukan perkara mudah.
Ditunggu ya kisah-kisahku yang lainnya dalam perburuan rumah idaman. Hehehe…


December 26th, 2009 at 10:33
Banget, Nad. Banyak faktor harus dipertimbangkan selain uang. Masalah hati..itu biasanya yang paling berperan untuk menemukan rumah yang cocok.
Selamat berburu ya..semoga dapat yang berkenan dan nyaman:)
December 27th, 2009 at 22:40
iya, rin…bener banget…
makasi yaaa