Jualan Boleh Jutek?
Makanya, saat saya sedang menangani pelanggan di http://bukumurmer.multiply.com, meski mereka kadang suka ‘lucu-lucu’, saya berusaha se-cool mungkin.
Nah, tadi sore, saya dan Hana, anak semata wayang, jalan-jalan ke pasar. Bukan yang pertama kali buatnya, ke pasar tradisional. Tapi, ia belum pernah ke bagian sayur-mayur. Ia nampak bingung. Karena, selama ini yang ia lihat sayur tertata apik dalam ruangan yang bersih di hypermart.
Tapi, bukan jalan-jalan berdua Hana yang hendak saya bahas di sini, melainkan tingkah polah penjual yang saya temui di pasar tadi.
Ada yang ramah, tapi begitu saya menawar, mereka membalikkan tubuh, pura-pura sibuk merapikan barang dagangan.
Ada pula yang sejak awal memang acuh tak acuh.
Ada pula yang bete saat tahu ia tak menjual barang yang saya cari dan malah dengan nada mengesalkan menawarkan barang lain.
Ada yang seakan tak butuh pelanggan yang membeli barang sedikit karena ada yang sedang membeli dengan jumlah yang lebih banyak.
Ada yang jutek. Sejutek-juteknya.
Tapi ada pula yang memang benar-benar ramah. Keramahan yang tulus. Dan, saya berbelanja di sana, tentunya. Apalagi saya boleh menawar.
Wajah tanpa aura jutek sudah pasti mampu menarik pelanggan. Jualan sukses. Hati senang.
Buat apa jutek? Jutek itu tak ada gunanyaaa…

