Dari Hati ke Hati dengan Suami
Dalam rumah tangga, komunikasi menjadi salah satu hal terpenting. Jika komunikasi gagal, terkadang masalah pun bisa muncul. Atau bahkan masalah yang sudah ada justru akan bertambah rumit.
Berbekal pesan dari orang tua bahwa jika pagi jangan memulai keributan dan jika ada yang baru pulang jangan dilaporkan hal-hal yang tak mengenakan, maka saya pun berusaha menerapkannya.
Di samping itu, belajar dari lingkungan, perempuan adalah penyeimbang emosi dalam keluarga, entah itu emosi yang berupa rasa bahagia, rasa sedih, ataupun amarah. Jadi, perempuan harus pandai-pandai membaca situasi dan mengolahnya — meskipun laki-laki juga bukan berarti bisa seenaknya tanpa memperhatikan situasi lho.
Karena itu, saya selalu berusaha menjalin komunikasi dengan suami dalam situasi yang kira-kira netral ataupun riang.
Berikut ini adalah beberapa DOs and DON’Ts yang biasanya saya jadikan patokan.
DOs:
- Perhatikan daily mood suami, setelah beberapa hari biasanya bisa terbaca kapan-kapan saja ia merasa nyaman. Di situlah saya biasanya mengambil kesempatan untuk berbicara.
- Siapkan kata-kata yang netral, kalau perlu manis, meskipun sebenarnya yang ingin disampaikan adalah unek-unek.
- Buatlah suasana yang nyaman sebelum memulai pembicaraan yang kira-kira agak serius dan berpotensi menguras emosi.
- Jika kira-kira nada bicara kita atau suami tiba-tiba meninggi, istighfar dan hentikan atau alihkan pembicaraan, agar tidak terjadi pertengkaran.
DON’Ts:
- Jangan pernah membicarakan masalah atau menceritakan sesuatu yang kurang mengenakkan saat suami baru pulang. Jalan yang macet sudah cukup membuatnya kesal, jangan kita tambahkan.
- Jangan memulai pembicaraan untuk hal-hal yang penting saat kita sedang merasa kesal dan emosi. Tunggu hingga reda. Memang sih, kadang kayaknya jadi nggak seru lagi. Tapi apa mau jika berakhir dengan pertengkaran yang sebenarnya bisa dihindarkan?
- Jangan pernah memulai pembicaraan dengan kata-kata sindiran dan berharap ia paham. Karena, ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi: 1. Ia tak paham dan cuek, sehingga kita kesal sendiri; 2. Ia tersinggung, dan memicu pertengkaran.
- Jangan menggunakan nada tinggi jika bisa diusahakan untuk menggunakan nada netral.
- Jangan merepet panjang lebar (baca: mengomel tidak jelas). Kita sendiri tidak suka jika harus mendengarkan hal serupa, bukan?
Hm…apa lagi ya? Tapi ya kira-kira seperti itu lah.
Diharapkan, jika rambu-rambu di atas sudah saya turuti, saya dapat menghadirkan komunikasi dari hati ke hati yang nyaman dengan suami.
Atau, teman-teman punya pengalaman atau DOs and DON’Ts lainnya? Sharing yuk.
Tulisan ini sekedar self reminder, pengingat bagi saya. Senang sekali jika ada yang mau menambahkan
.
Padahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.