PPT 5: Dialog Udin dan Asrul
Posted in Hidup, Inspirasi, Islam, Sekedar Cerita on 08/15/2011 04:49 am by Nadiah Alwi
Dialog antara dua sahabat, Udin dan Asrul, di Sinetron Para Pencari Tuhan kerap membuat saya berkerut kening walau tak jarang juga membuat saya tertawa.
Dialog barusan tentang betapa keluarga adalah urusan dunia yang kita yang sebaiknya kita cintai dengan sewajarnya saja, tidak terlalu berlebihan, apalagi menghamba. Karena pada akhirnya akan diambil kembali oleh-Nya, entah dengan cara yang menyakitkan ataupun tidak membuat saya terhenyak.
Terlebih dialog lanjutan mereka:
Udin: Boleh nangis?
Asrul: Boleh, tapi jangan sampai meraung-raung, seakan Allah hanya mampu menghadirkan kesusahan dalam hidupmu.
Subhanallah.
Dialog itu membuat saya berkaca dengan beribu bahkan berjuta air mata yang pernah menetes di pipi ini. Terkadang, jika sedang dirundung malang, kita bisa menangis sejadi-jadinya. Padahal, jika hal itu telah berlalu, toh pada akhirnya kita bisa melanjutkan hidup. Jadi, apa makna tangis kita itu sebenarnya?
Ada yang bilang, tangis bisa membuat kita merasa lega. Saya mau tidak mau setuju. Setelah selesai mengumbar kesedihan lewat air mata, biasanya dada menjadi plong. Tapi mudah-mudahan setelah diingatkan oleh Asrul melalui dialognya di atas, saya akan lebih beradab dalam menangis. Amin.
Foto dari: FB Udin Nganga dan Asrul Dahlan
Dalam rumah tangga, komunikasi menjadi salah satu hal terpenting. Jika komunikasi gagal, terkadang masalah pun bisa muncul. Atau bahkan masalah yang sudah ada justru akan bertambah rumit.
Frase itu sering digunakan anak muda — atau anak yang sudah tidak muda laggi
Padahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.







