güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Posts Tagged ‘Hidup’

PPT 5: Dialog Udin dan Asrul

asrul-udin-pptDialog antara dua sahabat, Udin dan Asrul, di Sinetron Para Pencari Tuhan kerap membuat saya berkerut kening walau tak jarang juga membuat saya tertawa.

Dialog barusan tentang betapa keluarga adalah urusan dunia yang kita yang sebaiknya kita cintai  dengan sewajarnya saja, tidak terlalu berlebihan, apalagi menghamba. Karena pada akhirnya akan diambil kembali oleh-Nya, entah dengan cara yang menyakitkan ataupun tidak membuat saya terhenyak.

Terlebih dialog lanjutan mereka:

Udin: Boleh nangis?

Asrul: Boleh, tapi jangan sampai meraung-raung, seakan Allah hanya mampu menghadirkan kesusahan dalam hidupmu.

Subhanallah.

Dialog itu membuat saya berkaca dengan beribu bahkan berjuta air mata yang pernah menetes di pipi ini. Terkadang, jika sedang dirundung malang, kita bisa menangis sejadi-jadinya. Padahal, jika hal itu telah berlalu, toh pada akhirnya kita bisa melanjutkan hidup. Jadi, apa makna tangis kita itu sebenarnya?

Ada yang bilang, tangis bisa membuat kita merasa lega. Saya mau tidak mau setuju. Setelah selesai mengumbar kesedihan lewat air mata, biasanya dada menjadi plong. Tapi mudah-mudahan setelah diingatkan oleh Asrul melalui dialognya di atas, saya akan lebih beradab dalam menangis. Amin.

Foto dari: FB Udin Nganga dan Asrul Dahlan

Dari Hati ke Hati dengan Suami

dari-hati-ke-hatiDalam rumah tangga, komunikasi menjadi salah satu hal terpenting. Jika komunikasi gagal, terkadang masalah pun bisa muncul. Atau bahkan masalah yang sudah ada justru akan bertambah rumit.

Berbekal pesan dari orang tua bahwa jika pagi jangan memulai keributan dan jika ada yang baru pulang jangan dilaporkan hal-hal yang tak mengenakan, maka saya pun berusaha menerapkannya.

Di samping itu, belajar dari lingkungan, perempuan adalah penyeimbang emosi dalam keluarga, entah itu emosi yang berupa rasa bahagia, rasa sedih, ataupun amarah. Jadi, perempuan harus pandai-pandai membaca situasi dan mengolahnya — meskipun laki-laki juga bukan berarti bisa seenaknya tanpa memperhatikan situasi lho.

Karena itu, saya selalu berusaha menjalin komunikasi dengan suami dalam situasi yang kira-kira netral ataupun riang.

Berikut ini adalah beberapa DOs and DON’Ts yang biasanya saya jadikan patokan.

DOs:

  • Perhatikan daily mood suami, setelah beberapa hari biasanya bisa terbaca kapan-kapan saja ia merasa nyaman. Di situlah saya biasanya mengambil kesempatan untuk berbicara.
  • Siapkan kata-kata yang netral, kalau perlu manis, meskipun sebenarnya yang ingin disampaikan adalah unek-unek.
  • Buatlah suasana yang nyaman sebelum memulai pembicaraan yang kira-kira agak serius dan berpotensi menguras emosi.
  • Jika kira-kira nada bicara kita atau suami tiba-tiba meninggi, istighfar dan hentikan atau alihkan pembicaraan, agar tidak terjadi pertengkaran.

DON’Ts:

  • Jangan pernah membicarakan masalah atau menceritakan sesuatu yang kurang mengenakkan saat suami baru pulang. Jalan yang macet sudah cukup membuatnya kesal, jangan kita tambahkan.
  • Jangan memulai pembicaraan untuk hal-hal yang penting saat kita sedang merasa kesal dan emosi. Tunggu hingga reda. Memang sih, kadang kayaknya jadi nggak seru lagi. Tapi apa mau jika berakhir dengan pertengkaran yang sebenarnya bisa dihindarkan?
  • Jangan pernah memulai pembicaraan dengan kata-kata sindiran dan berharap ia paham. Karena, ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi: 1. Ia tak paham dan cuek, sehingga kita kesal sendiri; 2. Ia tersinggung, dan memicu pertengkaran.
  • Jangan menggunakan nada tinggi jika bisa diusahakan untuk menggunakan nada netral.
  • Jangan merepet panjang lebar (baca: mengomel tidak jelas). Kita sendiri tidak suka jika harus mendengarkan hal serupa, bukan?

Hm…apa lagi ya? Tapi ya kira-kira seperti itu lah.

Diharapkan, jika rambu-rambu di atas sudah saya turuti, saya dapat menghadirkan komunikasi dari hati ke hati yang nyaman dengan suami.

Atau, teman-teman punya pengalaman atau DOs and DON’Ts lainnya? Sharing yuk.

Tulisan ini sekedar self reminder, pengingat bagi saya. Senang sekali jika ada yang mau menambahkan :) .

Quick Update

Minggu ini cukup melelahkan. Begitu banyak target yang harus dicapai. Tapi, minggu ini juga cukup menyenangkan. Keluar rumah 2 kali.

Sayang, masalah perburuan rumah jadi terabaikan. Saat aku dan suami ada waktu, mendung menggelayut dan mengantarkan hujan. Karena kami naik motor, maka  rencana keliling cari rumah harus tertunda.

Kembali ke masalah keluar rumah, aku menargetkan untuk keluar rumah minimal satu kali dalam seminggu mulai minggu depan. Aku butuh suasana yang berbeda.

Setiap hari kerja di kamar ternyata bikin butek juga :D . I need some fun!

EGP

Emang Gue Pikirin.

egpFrase itu sering digunakan anak muda — atau anak yang sudah tidak muda laggi ;) — dalam menggambarkan keinginan untuk tidak memikirkan suatu permasalahan.

Nah, saya sedang berusaha begitu. Karena, pada dasarnya, saya sebenarnya tipe orang yang apa-apa dipikirin. Capek juga loh. Tapi mengubah diri kan nggak segampang itu.

Memikirkan segala sesuatu membuat kita rentan stres memang. Sedikit-sedikit sakit kepala — atau bahkan menangis.

Padahal, dengan EGP, hal yang kita anggap beban bisa berubah menjadi hal yang enteng. Okelah, mungkin hanya sesaat. Tapi, lumayan kan, daripada seharian harus mutung?

Saya juga tipe orang yang senang menyiksa diri. Jika ada masalah, dibayang-bayangkan, diingat-ingat. Duh, tersiksa deh pokoknya. Kerja juga nggak konsen jadinya.

Tapi, alhamdulillah, terapi EGP — walu belum dapat membuat saya berubah 100% — dapat membuat saya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Apalagi, belakangan tuntutan pekerjaan sedang tinggi.

Jika EGP dapat membuat hidup lebih damai, kenapa nggak? :D

Tak Cukupkah yang Kau Miliki?

“Mau ganti mobil baru, udah gak enak nih mobil.”

Padahal umur mobil itu belum lagi mencapai setahun.

“Gila, tabungan gue dikit banget.”

Padahal tabungannya berjumlah hampir seratus kali gaji bulanan yang diterimanya dan asetnya banyak.

“Rumah gue udah perlu direnov nih.”

Padahal rumahnya pun belum lama dibangun.

“Duh, asli deh gue bingung ngatur keuangan rumah tangga. Belum sehari-hari, belum bayar tagihan.”

Padahal setelah membayar semua itu pun gajinya masih bersisa banyak.

Seseorang pernah berkata, jika masih ada yang dikeluhkan, itu tandanya masih ada yang masih bisa disyukuri.

Terkadang, orang menjadi begitu konsumtif sehingga semua serba kekurangan. Tapi, tak bisakah ia memandang sedikit ke bawah? Betapa banyak orang yang untuk makan hari ini saja ia tak tahu bisa mendapatkan uang dari mana.

Parahnya lagi, ada pula yang mengeluh tak punya uang hanya karena takut orang meminta bantuan finansial darinya. Ini lebih menyedihkan lagi.

Saya hanya dapat mengurut dada jika mendengar keluhan di atas. Ingin saya meminta mereka istighfar, tapi saya urungkan. Bukan tidak mau mengingatkan, namun saya takut mereka menganggap yang tidak-tidak.

Saya menulis ini sekedar untuk mengingatkan diri sendiri. Karena, mungkin saya juga sering khilaf, mengeluh padahal sesungguhnya saya bisa bersyukur.

Kemarin, saya mengeluh di FB:

Nadiah Alwi lg nerjemahin, mood nulis; lagi nulis, mood ngedit gambar; lagi ngedit gambar, mood ngeblog; lagi ngeblog, mood chatting; lg chatting, mood mbaca; lagi mbaca, mood nerjemahin; piye siiihhh…

Astaghfirullah.

pohon-musim-dinginPadahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.

Yah, begitulah manusia. Sulit merasa puas. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian — mengutip lagu Bimbo. Dan, semoga hati kita tetap nampak indah dalam keadaan bagaimanapun, meski tak berdaun satu pun, seperti pohon di musim dingin ini.

Sumber gambar: http://designbeginshere.com