güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Posts Tagged ‘manusia’

Definisi Cinta

definisi-cintaTadi sore, saya kumpul-kumpul dengan beberapa teman. Iseng aja, mendadak, kebetulan si A sedang bersama si B, lalu mereka mengontak si C, kemudian si D, yang dijemput oleh si E. Dan kami berlima pun berkumpul sore-sore untuk ngupi dan cerita-cerita.

Ngobrol punya ngobrol, entah bagaimana, akhirnya pembicaraan mengalir ke satu titik: DEFINISI CINTA.

Sementara si E sedang pergi dulu sebentar, masing-masing mengutarakan definisi cinta.

A: Cinta adalah pengorbanan

B: Love takes time (ini mah lagu ya?)

C: Cinta itu beda dengan kasih sayang. Cinta itu love, sayang itu care.

D: Cinta itu perasaan saat hati berdebar-debar akibat bertemu sang pujaan. Kalau sayang itu perasaan yang timbul kemudian, setelah cinta sama-sama bertepuk. (Ini definisi saya!)

E: (tiba-tiba muncul kembali, langsung ditanya, dan segera menjawab) Cinta itu ikhlas.

Akhirnya E penasaran, ia pun mencari definisi cinta di Wikipedia. Maklum, orang IT, jadi apa-apa dicari di internet? ^___^

Penjelasan Oom Wiki tentang cinta bisa dilihat di SINI.

Akhirnya, kami pun berkesimpulan bahwa definisi cinta itu unik, sesuai dengan pengalaman kehidupan percintaan yang pernah dilewati masing-masing individu.

So, apa definisi cinta menurut kamu? Care to share?

Mengubah Doa agar Diijabah

Ada sesuatu yang telah bertahun-tahun kupintakan kepada-Nya. Namun tak kunjung dikabulkan. Lalu, apakah aku harus berhenti berdoa?

Dalam beberapa tausiah-nya, Ustadzah Halimah Alaydrus menyarankan agar kita terus berdoa meskipun doa kita tak kunjung dijawab oleh-Nya karena Allah pasti menyimpan hikmah di balik itu. Beliau pun mencontohkan beberapa kisah tentang doa yang pada akhirnya diijabah oleh-Nya karena sang pendoa istiqomah dengan doanya.

Tapi ya namanya manusia. Kadang aku sempat juga berada di titik jenuh (padahal sebetulnya nggak boleh lho). Namun kemudian, aku kembali mengingat kisah yang diajarkan oleh Ustadzahku itu.

Kini, di bulan Ramadhan ini, aku kembali berdoa, meminta hal yang sama kepada-Nya. Namun, ada yang berbeda.

Aku sedikit mengubah doa yang kupanjatkan. Tujuan akhirnya sama. Namun cara menyampaikannya dan permintaannya aku ganti. Jika dulu aku meminta A, kini aku meminta B, yang pada akhirnya bisa mewujudkan A.

Untuk doa A, aku mendapati adanya emosi di sana, adanya keangkuhan. Ya, aku memintanya karena emosi, dengan sekelibat kesombongan yang awalnya tak kusadari. Namun untuk doa B, aku memintanya dengan segala kepasrahan yang ada. Sepenuhnya meminta-Nya agar Ia memberikan belas kasih-Nya.

Semoga dengan diubahnya doaku, di bulan yang penuh rahmat ini, Allah akan mengabulkan doaku. Semoga Allah mengijabah doa-doa kita semua. Amin.

Oh ya, ini ada artikel menarik tentang doa: http://www.kisahinspiratif.com/10-alasan-baik-mengapa-kita-perlu-berdoa-dengan-tekun.html

Sumber gambar: http://4syifa.wordpress.com/sendiri-dalam-sunyi/

Perburuan Rumah 5

Kemarin, aku dan Abi kembali mengukur jalan demi berburu rumah.

Kali ini, kami memperluas wilayah ke daerah Pasar Minggu.

rumah sederhanaRumah pertama yang kami kunjungi adalah di daerah Swadaya Siaga. Saat memasuki gang, hatiku sudah merasa kurang sreg. Tapi, sebagai orang yang senengannya penasaran, aku terus mengikuti sang makelar.

Dan, tibalah kami di depan sebuah rumah berdindingkan keramik kotak kecil — seperti di kamar mandi — yang berwarna merah dan putih. Jujur saja, aku kurang suka jenis dinding seperti ini. Hiks. Bentuk rumah pun kurang mengena di hati.

Tambah lagi, ada yang membuat aku benar-benar harus say NO kepada rumah ini. Dekat MAKAM alias kuburan. Rasanya kok gimanaaaa gitu ya…? Suratnya pun kurang sesuai dengan yang kuinginkan.

Kemudian, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah kedua. Lokasinya tak jauh dari Stasiun Pasar Minggu Baru. Kami masuk dari Jl. Batu Arab. Di ujung jalan, aku menelepon sang makelar.

“Pak, Bapak di mana? Kita ketemu di mana? Saya udah di ujung Jl. Batu Arab.”

“Saya di sini, Bu. Kita ketemu di sini aja.”

“Hm…Pak, di sini-nya di mana ya?”

Bapak baik hati itu pun akhirnya menjelaskan di mana ia berada. Hehehe…kumaha si Bapak…

Secara tampilan depan, rumah ini sudah sesuai dengan yang aku inginkan. Tapi, kami nggak bisa melihat ke dalam. Karena, sedang dikontrakkan dan yang mengontrak sedang pergi. Yah…

Dari harga ok, tapi lagi-lagi terbentur surat. Dan, suami kurang sreg dengan tetangga-tetangga di sekitar rumah itu. Karena, mereka membicarakan si pengontrak, yang menurut hemat mereka tidak ramah dan sombong. Agak comel juga ya kayaknya ibu-ibu itu. Hehehe…

Rumah ketiga. Lokasi di Menteng Dalam, ok banget, gak jauh dari jalan mobil. Harga juga ok. Sayang, SUDAH TERJUAL dua hari sebelumnya. Hiks.

Rumah keempat, di Menteng Dalam juga. Ribet. Jadi, ada yang mau jual rumahnya tapi dibelah dua. Hua…gak ngerti gimana belahnya. Aku dapat ruang tamu dan dapur aja atau gimana? Terpaksa say NO juga nih.

Sore harinya, aku mendapat kabar dari adik Mama bahwa rumah tetangganya akan dijual. Lokasi di Condet. Menarik nih. Aku pernah lihat rumahnya sih dari luar. Jalan di depannya cukup untuk 2 mobil! Harganya bisa dibilang cukup murah untuk lokasi itu. Sungguh aku tertarik.

Tapi, meski cukup murah dan suratnya SHM — yang artinya bisa KPR –, harganya di luar budget yang pernah aku dan suami tetapkan. Jadi, kami harus memikirkannya masak-masak.

Dannnn…aku akan keluar dari comfort zone: TEBET! Artinya, aku harus akan memulai hidup baru di wilayah baru. A giant step, isn’t it? Tapi, mengingat banyak sekali keluarga yang tinggal di wilayah baru ini, semestinya adaptasi menjadi lebih mudah ya?

Another thing to consider. Aku (baca: Hana, anakku) akan jauh dari Mama dan Papa. Kata Mama sih, beliau nggak mikirin aku tapi lebih ke cucunya tercinta itu.

Jadi, meski sebenarnya aku ingin sekali mengambil kesempatan emas ini, banyak sekali pertimbangan dalam kepalaku. Semoga pada akhirnya aku dapat mengambil keputusan yang terbaik, apapun itu, dan di beri kemudahan oleh-Nya. Amin.

Foto Salak dari milik Nugroho Adhi.

Quick Update

Minggu ini cukup melelahkan. Begitu banyak target yang harus dicapai. Tapi, minggu ini juga cukup menyenangkan. Keluar rumah 2 kali.

Sayang, masalah perburuan rumah jadi terabaikan. Saat aku dan suami ada waktu, mendung menggelayut dan mengantarkan hujan. Karena kami naik motor, maka  rencana keliling cari rumah harus tertunda.

Kembali ke masalah keluar rumah, aku menargetkan untuk keluar rumah minimal satu kali dalam seminggu mulai minggu depan. Aku butuh suasana yang berbeda.

Setiap hari kerja di kamar ternyata bikin butek juga :D . I need some fun!

Tak Cukupkah yang Kau Miliki?

“Mau ganti mobil baru, udah gak enak nih mobil.”

Padahal umur mobil itu belum lagi mencapai setahun.

“Gila, tabungan gue dikit banget.”

Padahal tabungannya berjumlah hampir seratus kali gaji bulanan yang diterimanya dan asetnya banyak.

“Rumah gue udah perlu direnov nih.”

Padahal rumahnya pun belum lama dibangun.

“Duh, asli deh gue bingung ngatur keuangan rumah tangga. Belum sehari-hari, belum bayar tagihan.”

Padahal setelah membayar semua itu pun gajinya masih bersisa banyak.

Seseorang pernah berkata, jika masih ada yang dikeluhkan, itu tandanya masih ada yang masih bisa disyukuri.

Terkadang, orang menjadi begitu konsumtif sehingga semua serba kekurangan. Tapi, tak bisakah ia memandang sedikit ke bawah? Betapa banyak orang yang untuk makan hari ini saja ia tak tahu bisa mendapatkan uang dari mana.

Parahnya lagi, ada pula yang mengeluh tak punya uang hanya karena takut orang meminta bantuan finansial darinya. Ini lebih menyedihkan lagi.

Saya hanya dapat mengurut dada jika mendengar keluhan di atas. Ingin saya meminta mereka istighfar, tapi saya urungkan. Bukan tidak mau mengingatkan, namun saya takut mereka menganggap yang tidak-tidak.

Saya menulis ini sekedar untuk mengingatkan diri sendiri. Karena, mungkin saya juga sering khilaf, mengeluh padahal sesungguhnya saya bisa bersyukur.

Kemarin, saya mengeluh di FB:

Nadiah Alwi lg nerjemahin, mood nulis; lagi nulis, mood ngedit gambar; lagi ngedit gambar, mood ngeblog; lagi ngeblog, mood chatting; lg chatting, mood mbaca; lagi mbaca, mood nerjemahin; piye siiihhh…

Astaghfirullah.

pohon-musim-dinginPadahal semestinya saya bersyukur ya? Saya masih bisa melakukan semua itu. Bayangkan, ada orang yang memiliki keterbatasan dan tak ada satu pun dari semua keluhan saya itu yang bisa dikerjakannya.

Yah, begitulah manusia. Sulit merasa puas. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian — mengutip lagu Bimbo. Dan, semoga hati kita tetap nampak indah dalam keadaan bagaimanapun, meski tak berdaun satu pun, seperti pohon di musim dingin ini.

Sumber gambar: http://designbeginshere.com