güzel sözler chat yap çet yap çet film izle indirmeden film izle video izle bilgisayar teknik servis halı yıkama oyun oyna porno izle sex sikiş porno dedicated server vps

Posts Tagged ‘Rumah’

Perburuan Rumah 3

rumah mungilHari ini, aku dan suami kembali berputar-putar mencari rumah di sekitar Menteng Dalam, Tebet. Hasilnya: 2 rumah dan sebidang tanah.

Rumah pertama, kami kurang sreg. Karena, letaknya jauh sekali ke dalam gang. Kami sih tak apa jika di dalam gang, tapi maunya ya tidak lebih dari 30 meter ke dalam. Apalagi, tadi kami tidak bisa melihat ke dalam rumah.

Rumah kedua, sejujurnya aku cukup sreg. Lingkungannya enak, dan dari jalan raya kurang dari 20 meter — di dalam gang juga. Rumahnya juga terbilang nyaman. Suratnya pun SHM (Sertifikat Hak Milik). Dan, si pemilik pun terbuka untuk KPR — ada seorang pemilik rumah lainnya yang tidak mau dibeli dengan cara KPR, entah kenapa, mungkin takut lama ya prosesnya?

Nah, yang seru tanah nih. Lokasinya agak di pojok dan jalannya masuk mobil. Aku dan suami sreg banget! Hanya saja, tidak jelas apakah tanah itu dijual atau tidak. Kalau sampai dijual, kami naksir sekali.

Insya Allah perburuan rumah 4 akan kami lanjutkan hari Senin mendatang. Karena, ada seorang kawan yang memberi info tentang dua rumah lainnya yang akan dijual.

Sungguh seru. Tapi, agak menyesakkan. Karena, sepanjang jalan tadi, aku melihat beberapa rumah yang terabaikan, terbengkalai, dibiarkan hancur begitu saja. Entah ke mana pemiliknya. Padahal, di luar sana banyak sekali orang yang sedang mencari rumah.

Mudah-mudahan kami dapat menemukan rumah idaman sebelum harus hengkang dari rumah yang kami tempati sekarang. Amin.

Perburuan Rumah 2

Kemarin, perburuan rumah kembali aku lakukan, bersama suami tentunya. Dengan mengendarai motor, kami meluncur menuju tempat janjian, di sebuah Masjid di daerah Menteng Dalam.

Setelah menunggu beberapa saat, sang makelar pun muncul. Aku berjalan beriringan dengan Pak Makelar (PM), sementara suami mengikuti perlahan dengan motornya dari belakang.

Rumah pertama, I had to say no. Gak ada udara. Hiks…

PM memang sudah memperingatkan bahwa aku takkan suka, tapi karena harganya yang super miring, aku ngotot mau lihat juga.

Rumah kedua, hm…sebenarnya sih not that bad. Tapi, aku merasa kurang sreg. Padahal, tidak banjir dan suratnya sudah HGB (Hak Guna Bangunan).

Akhirnya, meski di luar rencana, kami melihat rumah ketiga. Aku setengah hati melihatnya, karena harganya di luar budget yang kami rencanakan.

Tapi, di sebelahnya ada tanah kosong. Sangat kecil, memang. Hanya saja, aku minat banget. Kebayang deh bisa aku bangun dengan bentuk rumah sesuai keinginan. Tapi, kata PM, tanah itu tidak dijual terpisah dengan rumah ketiga yang kami lihat karena akan dijadikan garasi.

Namun, aku ngotot. Pokoknya, kalau ada info, aku minta dikabari.

Memang tidak gampang mencari rumah dengan harga miring di lingkungan Tebet. Kalaupun ada, tak sesuai dengan hatiku. Hiks.

Apalagi, aku baru tahu bahwa untuk mengajukan KPR, syarat yang sehubungan dengan rumah adalah sbb:

  • tidak di gang
  • surat harus SHM (Sertifikat Hak Milik)

Wah, tambah susah deh.

Tapi, aku pantang menyerah! Harus semangat! Jadi, perburuan akan tetap kulakukan. Prioritas tetap di sekitar Tebet, tapi kalau nggak ketemu juga, nampaknya memang harus hunting di lokasi lain.

Fiuh…

Perburuan Rumah 1

rumah idamanSebelum ini, aku berburu rumah kontrakan. Tapi, belakangan terinspirasi untuk berburu rumah yang dijual.

Bukan berarti dananya ada. Hahaha…ini sih sekedar nekad aja. Rencana mau KPR, jika memungkinkan. Masih dicek dulu juga persyaratannya sih.

Berhubung ada request dari Mama untuk tinggal tak jauh-jauh dari beliau, aku dan suami mencari rumah di sekitar Tebet (baca: pinggir-pinggirnya Tebet, karena kemungkinannya kok agak kecil ya kalau di Tebetnya? Mahal boo!).

Maka, awal minggu lalu, aku membuat janji dengan seorang makelar yang kutemukan secara online. Ternyata sang makelar menawarkan bukan hanya satu rumah, melainkan dua. Harusnya, tadi pagi aku melihat kedua rumah tersebut. Tapi, sang makelar salah tangkap, mengira janjian denganku sore hari. Maka, batal lah rencana itu.

Untung ada 1 rumah lagi yang aku incar. Kebetulan, aku kontak langsung dengan si pemilik rumah. Setelah menelepon si ibu, jadilah aku janjian untuk intip-intip rumah jam 11.

Menurut keluarga, ada kemungkinan rumah di daerah tersebut terkena banjir. Tapi, kata si pemilik tidak banjir.

Sebenarnya, aku sudah ragu juga sih. Tapi, penasaran. Eeehh…di jalan, helmku lepas. Jadilah suami lari-lari di Jl. MT. Haryono mengambil itu helm (trims, suamiku) — cerita nggak penting ya? Hehehe.

Dan, saat tiba di rumah itu, aku cukup impressed. Meski di gang dan bukan bangunan baru, tapi lumayan lah. Saat selesai lihat-lihat, suami memberi kode dengan menunjuk ke pintu pagar.

Lemas deh. Pagar kecil itu dibuat tinggi. Suami juga menunjuk ke rumah lainnya yang ditinggikan. Pertanda bahwa daerah itu adalah dareah banjir.

Aku pulang dengan harapan yang kembali menghampa dan sedikit rasa takut, jangan-jangan dua rumah lainnya itu juga bermasalah–karena harganya yang murah dan memang sepertinya sudah lama terdaftar di situs pengiklan rumah online di mana aku melihat info tentang rumah tersebut.

Tapi, insya Allah niatku baik. Jadi, tadi suami juga mengajak berpikiran positif bahwa kami nantinya akan menemukan rumah yang cocok yang pada akhirnya akan menjadi rizki kami.

Jadi, meski perburuan pertama tadi gagal, aku tidak patah semangat. Masih ada esok. Masih ada kesempatan lain.

Lagipula, kata orang, mencari rumah memang bukan perkara mudah.

Ditunggu ya kisah-kisahku yang lainnya dalam perburuan rumah idaman. Hehehe…

Sebelum ini, aku berburu rumah kontrakan. Tapi, belakangan terinspirasi untuk berburu rumah yang dijual.

Bukan berarti dananya ada. Hahaha…ini sih sekedar nekad aja. Rencana mau KPR, jika memungkinkan.

Berhubung ada request dari Mama untuk tinggal tak jauh-jauh dari beliau, aku dan suami mencari rumah di sekitar Tebet (baca: pinggir-pinggirnya Tebet, karena kemungkinannya kok agak kecil ya kalau di Tebetnya? Mahal boo!).

Maka, awal minggu lalu, aku membuat janji dengan seorang makelar yang kutemukan secara online. Ternyata sang makelar menawarkan bukan hanya satu rumah, melainkan dua. Harusnya, tadi pagi aku melihat kedua rumah tersebut. Tapi, sang makelar salah tangkap, mengira janjian denganku sore hari. Maka, batal lah rencana itu.

Untung ada 1 rumah lagi yang aku incar. Kebetulan, aku kontak langsung dengan si pemilik rumah. Setelah menelepon si ibu, jadilah aku janjian untuk intip-intip rumah jam 11.

Menurut keluarga, ada kemungkinan rumah di daerah tersebut terkena banjir. Tapi, kata si pemilik tidak banjir.

Sebenarnya, aku sudah ragu juga sih. Tapi, penasaran. Eeehh…di jalan, helmku lepas. Jadilah suami lari-lari di Jl. MT. Haryono mengambil itu helm (trims, suamiku).

Dan, saat tiba di rumah itu, aku cukup impressed. Meski bukan bangunan baru, tapi lumayan lah. Saat selesai lihat-lihat, suami memberi kode dengan menunjuk ke pintu pagar.

Lemas deh. Pagar kecil itu dibuat tinggi. Suami juga menunjuk ke rumah lainnya yang ditinggikan. Pertanda bahwa daerah itu adalah dareah banjir.

Aku pulang dengan harapan yang kembali menghampa dan sedikit rasa takut, jangan-jangan dua rumah lainnya itu juga bermasalah–karena harganya yang murah dan memang sepertinya sudah lama terdaftar di situs pengiklan rumah online di mana aku melihat info tentang rumah tersebut.

Tapi, insya Allah niatku baik. Jadi, tadi suami juga mengajak berpikiran positif bahwa kami nantinya akan menemukan rumah yang cocok yang pada akhirnya akan menjadi rizki kami.

Jadi, meski perburuan pertama tadi gagal, aku tidak patah semangat. Masih ada esok. Masih ada kesempatan lain.

Lagipula, kata orang, mencari rumah memang bukan perkara mudah.

Ditunggu ya kisah-kisahku yang lainnya dalam perburuan rumah idaman. Hehehe…